Skip to main content

Posts

Showing posts with the label opensource

Windows 10

Tidak seperti biasa, kali ini aku akan bercerita tentang Windows 10 yang nota bene bukan open source software. Disini aku akan bercerita dari sisi interface yang dibawanya dan bagaimana respon ku terhadap konsep yang dibawanya. Setelah hampir satu dekade meninggalkan Windows, ada satu hal konsisten yang tetap dibawa Windows; yaitu kemudahan end user yang menjadi sellingpoint dari OS ini. Begitu mencoba memahami pola pikir Windows 10, maka impresi-nya adalah kelelahan di mataku, karena Windows tidak mengenal kosep virtual terminal (console) seperti Linux. Jadi begitu start, usage sampai shutdown; semua dikerjakan dalam mode grafis (GUI/Graphical User Interface). Berbeda banget dengan Linux yang menawarkan konsep virtual terminal (VT). Alias ada mode text untuk monitor, selain GUI juga ada tentu saja. Impresi menggunakan Windows yang seperti itu, membuat mataku selalu terpukau (lebih tepatnya tegang), karena dipaksa untuk memandangi layar monitor dalam mode grafis terus. Dan hal itu memb...

Distro Pilihan

Memilih distro itu ibarat kita memilih seorang istri atau suami. Satu tahun yang lalu, saya berkesempatan ketemu lagi dengan salah satu guru saya dalam dunia open source, yaitu Firdaus (saya biasa memanggilnya demikian, karena usianya memang lebih muda). Dia adalah orang yang mengajarkan tentang Linux untuk pertama kalinya ke saya dalam suasana kelas tatap muka. Pembelajaran itu terjadi sudah sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah ngobrol basa-basi kesana kemari, lalu dengan antusias saya jelaskan bahwa saya sekarang pakai distro Slackware . Secara spontan Firdaus memberi respon "fuih". Lho ada apa dengan Slackware? Itulah pertanyaan yang muncul dari dalam batinku. Kesan yang saya tangkap adalah bahwa distro itu adalah distro yang paling susah dipelajari menurut Firdaus. Benar juga, bahwa setelah saya tanya balik, rupanya dia menggunakan distro Fedora . Distro Fedora masuk kategori memiliki tingkat kesulitan yang sedang. Sementara distro Slackware memiliki tingkat kesulitan pali...

Whats App Tanpa Beli Smart Phone

Ada cara sederhana agar kita bisa chatting dengan WA (Whats App) tanpa membeli smart phone. Salah satunya adalah dengan menggunakan aplikasi chatting pidgin yang berjalan di OS Linux Slackware. Berikut adalah caranya: Perlu diinstal 2 aplikasi berikut: FreeImage pidgin-whatsapp Kedua aplikasi tersebut bisa kita peroleh dari slackbuilds.org. Pastikan aplikasi FreeImage diinstall dulu sebelum pidgin-whatsapp-nya. Pada hakekatnya, pidgin-whatsapp adalah implementasi protokol WA untuk aplikasi chatting pidgin. Adapun untuk mendapatkan password-nya, bisa dilakukan di OS Windows dengan aplikasi WART , yaitu dengan cara memasukkan nomor hp kita, pastikan urutannya adalah kode negara diikuti dengan nomor hp kita, tanpa angka nol didepan. Setelah itu, klik tombol `request code'. Nanti akan ada sms yang masuk ke hp kita. Setelah itu, masukkan kode tersebut pada bagian code, lalu klik tombol `confirm code'. Setelah itu nanti akan muncul password-nya. Setelah passwordnya kita peroleh...

Kustomisasi

Dalam minggu ini, saya sedang suka melakukan kostumisasi pada beberapa aplikasi atau tool berikut: 1. Emacs Untuk merubah warna mode-line di Emacs, cukup dilakukan dari aplikasi Emacs itu sendiri yaitu: F10 - o (options) - c (customize Emacs) - f (Spesific face). Lalu ketik mode-line, nah disana kita bisa mengganti warna foreground dan background-nya, kita tinggal memilih warna yang ditampilkan. Bila sudah selesai, lalukan perubahan dengan memindahkan kursor pada bagian `Apply' dan `Apply and Save'. Begitu kita melakukan `Apply and Save', maka perubahan tersebut disimpan pada file configurasi .emacs di folder home kita. 2. Tmux Tmux atau terminal multiplexer adalah aplikasi yang memungkinkan kita seolah-olah memiliki beberapa terminal. Tool ini banyak dipakai bagi mereka yang bekerja secara remote via terminal. Adapun cara mengkostumisasinya adalah dengan membuat file .tmux.conf pada folder home kita. Berikut adalah contohnya:   set -g status-fg cyan   set -g status-bg blac...

IN THE CLOUD

Kiranya patut disyukuri bahwa dengan kehadiran free open source software sudah membuka kran kreativitas developer dalam membuat aplikasi. Ditambah dengan adanya lisensi GPL yang memungkinkan bahwa kode sumber (source code) itu dibuka (open) dan di share kepada publik secara legal. Dan dilegalkan untuk memodifikasi source codenya, untuk kemudian dishare lagi kepada publik. Sehingga kreativitas itu dibuka selebar-lebarnya kepada para developer. Dari sisi end user, keadaan ini tentu memberi keuntungan dengan banyaknya pilihan sebuah aplikasi dengan fungsi yang sama, akan tetapi memiliki fitur yang sesuai dengan keperluannya. Point-nya adalah bahwa aplikasi yang dipakai itu legal. Ada pengalaman saya sewaktu bekerja dengan kolega saya di Singapore saat kita sedang mendevelop new product. Saya selaku Engineer diwajibkan untuk mempelajari new design tersebut dari sisi teori yang benar. Dan itu ada buku panduan yang kita gunakan. Mengingat bukunya hanya satu buah, sementara s...

Menemukan Yang Terbaik

Setelah beberapa kali mencoba beberapa distro yang berbasiskan deb seperti Debian , Ubuntu , termasuk juga yang berbasiskan rpm, seperti Open SUSE , Fedora . Akhirnya saya menemukan distro yang terbaik. Yaitu: Slackware , yang dikenal sebagai distro pertama dan yang masih bertahan sampai sekarang. Ada beberapa alasan mengapa saya menjadikan Slackware sebagai distro yang terbaik, diantaranya: (1) Installer Slackware disimpan dalam bentuk paket tarbal + file text yang menjelaskan mengenai fungsi paket tersebut. Termasuk, readme filenya. Semua dokumentasinya ditulis dalam format plain text. Jadi sebelum Anda melakukan instalasi, Anda sudah bisa membaca dokumentasinya secara mudah. Karena yang Anda perlukan hanyalah text editor seperti notepad.  (2) Informasi tentang Slackware Linux secara sekilas dan penjelasan langkah demi langkah proses instalasinya, termasuk bagaimana cara merecovery password root (bila Anda lupa), semuanya dijelaskan dengan gamblang dalam file S...

Okular

Untuk menghindari ketergantungan dengan paket adobe reader yang selama ini menjadi andalan sebagai pdf reader, maka kini saatnya saya berganti ke aplikasi alternatif sejenis. Alasan lain adalah masalah inovasi, karena bagi pengguna Linux, adobe reader berhenti pada versi 9.5.5. Jadi paket adobe reader bagi pengguna Linux berhenti inovasinya pada versi 9.5.5 ini. Di dunia open source ditawarkan beragam pdf reader, mulai dari xpdf, mupdf, evince sampai okular . Bila melihat xpdf dan mupdf, kedua pdf reader ini sangat sederhana. Dan bila menilik kepada kelengkapan fitur, maka evince dan okular cukup menjanjikan. Akan tetapi dari segi performa dan tajamnya tampilan, maka okular terlihat lebih baik ketimbang evince. Meski fungsi search yang menjadi alasan utama saya untuk tetap bergantung pada adobe reader tidak (belum) saya temukan di okular. Akan tetapi untuk saat ini, okular cukup menjanjikan. Karena terasa begitu ringan dan lebih responsif daripada adobe reader. Adapun syarat aga...

Browser War

Selama ini, ada cerita brower war yang pernah terjadi selama ini. Diawali dengan Netscape yang menjadi reinkarnasi first browser dari Mozaic. Yang pada awalnya mendominasi dunia browser, kemudian IE datang belakangan untuk melawan dominasi Netscape. Dan akhirnya Netscape mati (suri) setalah kalah dari IE, karena IE menggunakan strategi browser IE yang dibundle dengan OS Windows. Kemudian fase ke-2 adalah dengan dihidupkannya lagi Netscape dalam bentuk lain, yaitu Firefox dengan model pengembangan open source. Dan akhirnya terjadilah browser war yang ke-2, yaitu antara IE vs Firefox. Firefox sempat menguasai pangsa pasar sampai 25% secara global, akan tetapi kemudian sejak dikeluarnya Chrome oleh Google, mengalami penurunan jumlah penggunanya yang sampai sekarang hanya berkisar antara 20% saja. Browser war fase sekarang meliputi Chrome, Firefox dan IE. Dengan inovasi yang cepat pada Chrome dan Firefox; adapun IE mengalami stagnan dalam hal inovasi karena kelamaan update. Akan tetapi me...

Document Exchange

Ada hal yang perlu dicermati apabila kita biasa saling bertukar dokumen dengan kolega. Sementara teman kita masih menggunakan Windows, sedangkan kita sudah menggunakan Linux. Maka aplikasi yang paling ramah untuk keduanya adalah Libre Office. Adapun format file yang bisa kita gunakan adalah Open Document Format. Akan tetapi format ODF ini belumlah tersosialisasi dengan baik kepada teman-teman saya. Oleh karena itu, maka sayalah yang mengalah dengan mengikuti format mereka, yaitu format Open Office XML. Yaitu format dengan extention file .docx, .xlsx dan .pptx. Untunglah pada versi yang terbaru, Libre Office selalu melakukan pembaharuan dalam hal konversi ODF ke Open Office XML dan sebaliknya. Pernah pada versi tertentu, mungkin versi Libre Office 3.6, saya mengirimkan file spreadsheet.ods dengan formula di dalamnya. Akan tetapi begitu dibuka oleh kolega saya dengan Windows dan aplikasi MS Office, formulanya menjadi hilang. Yang tampil disana hanya datanya saja. Akan tetap...

Migrasi ke Linux

Apakah Anda berencana untuk melakukan migrasi dari Windows atau Mac OS X ke Linux? Bila memang benar demikian adanya, maka tulisan berikut mudah-mudahan bisa menginspirasi. Dua platfom (OS) tadi, yaitu Windows dan Mac OS X sudah menyuguhkan tampilan GUI yang begitu mempesona. Maklum, sekarang sudah masuk ke abad 21. Jadi semua tampilan yang digunakan adalah tampilan grafis, atau biasa disebut GUI alias Graphics User Interface. Mulai dari instalasi dan semua proses administrasinya. Agar Anda tidak shock sewaktu migrasi, maka satu hal yang menjadi pertimbangan adalah tampilan GUI yang mampu menyaingi kedua platform tersebut. Dalam hal GUI, maka distro yang paling jago dalam hal ini adalah Open SUSE. Tampilan GUI pada desktop environment Gnome sungguh clear sebening kristal. Berikut adalah pengalaman saya dalam menggunakan Open SUSE... Bila Anda mendownload file installer lengkapnya, maka Anda akan mendownload sekitar 4.1 GB. Sangat besar bukan? Ada cara lain, yaitu download-lah f...

Text Editor

Membicarakan text editor dalam dunia Linux, seolah tidak pernah selesai. Mengapa demikian ? Analoginya seperti Anda belajar Kimia, maka laboratoriumnya adalah kehidupan itu sendiri. Karena "Life is a Chemistry". Maka di Linux, dikenal "Everything is File". Istilah "file"  identik dengan text file. Dan kalau kita akan memanipulasi device atau piranti apapun yang terkoneksi dalam sebuah sistem Linux, maka yang kita manipulasi itu adalah file yang menjadi node dari device atau piranti tersebut. Maka tidaklah mengherankan bila keberadaan text editor di Linux penting. Bahkan ada istilah holy war in between vi vs emacs text editor. Ada yang mengatakan bahwa vi itu mainstream, dll.  Tetapi saya tidak akan masuk dalam polemik tersebut. Karena itu semua bisa terjadi mengingat open source memungkinkan Anda untuk memilih text editor mana yang menjadi favorit Anda. Simple Text Editor Bila pemahaman simple itu dari sisi end user, maka text editor yang simple menurut...