Friday, July 10, 2015

IN THE CLOUD

Kiranya patut disyukuri bahwa dengan kehadiran free open source
software sudah membuka kran kreativitas developer dalam membuat
aplikasi. Ditambah dengan adanya lisensi GPL yang memungkinkan bahwa
kode sumber (source code) itu dibuka (open) dan di share kepada publik
secara legal. Dan dilegalkan untuk memodifikasi source codenya, untuk
kemudian dishare lagi kepada publik. Sehingga kreativitas itu dibuka
selebar-lebarnya kepada para developer.

Dari sisi end user, keadaan ini tentu memberi keuntungan dengan
banyaknya pilihan sebuah aplikasi dengan fungsi yang sama, akan tetapi
memiliki fitur yang sesuai dengan keperluannya. Point-nya adalah bahwa
aplikasi yang dipakai itu legal.

Ada pengalaman saya sewaktu bekerja dengan kolega saya di Singapore
saat kita sedang mendevelop new product. Saya selaku Engineer
diwajibkan untuk mempelajari new design tersebut dari sisi teori yang
benar. Dan itu ada buku panduan yang kita gunakan. Mengingat bukunya
hanya satu buah, sementara saya harus kembali ke Batam, maka saya
bermaksud untuk mem-foto copy beberapa lembar halaman dari buku
tersebut. Akan tetapi kolega saya melarang bahwa tindakan memfoto copy
tanda mendapat ijin tertulis dari si penulis itu adalah tindakan
ilegal di Singapore. Oleh karena itu maka saya mengurungkan niat saya
tersebut.

Adapun tindakan mem-foto copy buku atau modul kuliah di Indonesia itu
jamak dilakukan. Meskipun sudah ada undang-undang yang melarang hal
tersebut, akan tetapi tetap saja tindakan tersebut (mem foto copy)
tanpa meminta ijin dari penulis dilakukan secara
terang-terangan. Inilah perbedaan sikap dan perilaku kita dengan orang
Singapore yang selalu menjunjung tinggi hak cipta karya seseorang.

Oleh karena itu, maka wajarlah bahwa gerakan free open source biasanya
menggunakan lisensi GPL dari GNU. Inilah payung hukum dalam mendevelop
software open source. Dan hal itu jugalah yang memungkinkan
tersedianya software open source di internet (cloud atau awan). Hal
ini dilakukan agar si pembuat software tersebut bisa men-share
softwarenya dan dilain pihak publik bisa mendownload dan menggunakan
software tersebut secara legal.

Bagi saya yang sudah migrasi ke Linux, maka semua aplikasinya sudah
tersedia di internet. Bila kita ingin menggunakan distro tertentu,
maka kita tinggal mendownload file iso image-nya dari website resmi
distro tersebut. Dan untuk kemudian kita bisa mengkostumisasi-nya
sesuai selera.

Sebagai contoh adalah apa yang biasanya saya lakukan sekarang, pilihan
distro jatuh pada Slackware, maka saya akan mendownload file iso
image-nya dari slackware.com. Adapun paket non standart lainnya saya
peroleh dari website slackbuilds.org atau menggunakan paket racikan
Erick Hameleers dari blognya di alien.slackbook.org/blog

Sementara untuk console fonts favorit saya yang sebelumnya adalah
CyrAsia-Fixed16.psf.gz yang saya dapatkan dari distro Debian, sekarang
ada gantinya yaitu gnu unifont yang bisa saya dapatkan dari
ftp.gnu.org/gnu/unifont

Adapun untuk document viewer saya percayakan pada Okular yang memang
merupakan paket standard dari Slackware. Sedangkan untuk office suite
saya peroleh dari Libre Office dengan menggunakan script dari
slackbuilds.org atau langsung menggunakan racikan paketnya dari Eric
Hameleers tersebut diatas. 

Bedanya dengan proprietary software adalah bahwa kita perlu membeli
lisensi dari si pembuat software tersebut. Saya berpengalaman saat
membeli Office 365 for University, yang berupa satu kota kecil. Pikir
saya, didalamnya tentu ada CD installernya, ternyata saya
salah. Didalamnya hanyalah serial numbernya saja, sedangkan
softwarenya kita harus mendownloadnya sendiri dari website office 365
buatan microsoft tersebut.

Pada hakekatnya sama, yaitu installernya kita download dari internet
(cloud), akan tetapi bedanya kita harus membayar lisensinya, bila kita
menggunakan software yang proprietary.

Welcome to the cloud computing era.

Wednesday, July 01, 2015

Menemukan Yang Terbaik

Setelah beberapa kali mencoba beberapa distro yang berbasiskan deb
seperti Debian, Ubuntu, termasuk juga yang berbasiskan rpm, seperti
Open SUSE, Fedora. Akhirnya saya menemukan distro yang terbaik. Yaitu:
Slackware, yang dikenal sebagai distro pertama dan yang masih bertahan
sampai sekarang.

Ada beberapa alasan mengapa saya menjadikan Slackware sebagai distro
yang terbaik, diantaranya:

(1) Installer Slackware disimpan dalam bentuk paket tarbal + file text
yang menjelaskan mengenai fungsi paket tersebut. Termasuk, readme
filenya. Semua dokumentasinya ditulis dalam format plain text. Jadi
sebelum Anda melakukan instalasi, Anda sudah bisa membaca
dokumentasinya secara mudah. Karena yang Anda perlukan hanyalah text
editor seperti notepad. 

(2) Informasi tentang Slackware Linux secara sekilas dan penjelasan
langkah demi langkah proses instalasinya, termasuk bagaimana cara
merecovery password root (bila Anda lupa), semuanya dijelaskan dengan
gamblang dalam file Slackware-HOWTO.

(3) Begitu Anda selesai melakukan instalasi, maka hal pertama yang
perlu Anda lakukan adalah membaca arahan dari si pembuat Slackware,
yaitu Patrick Volkerding melalui e-mail yang dikirimkan kepada Anda
sewaktu pertama kali Anda login sebagai root. Cukup Anda ketik #
mail. Disana Anda akan dijelaskan bagaimana mengelola Slackware Linux
Anda dengan cara yang benar ("Slackware way").

(4) Slackware tidak mengenal tools installer yang menangani dependensi
paket. Hal ini sengaja dilakukan agar sistem Anda tidak berantakan
dengan adanya paket-paket yang tidak perlu. Karena bila sistem Anda
berantakan, hal itu akan mempengaruhi performa sistem secara
keseluruhan.

(5) Ada jaminan, bila Anda mengikuti cara Slackware yang benar, maka
Anda akan mengerti Linux. Karena distro ini berpegang teguh pada
tradisi Unix yang menempatkan text command prompt sebagai pusat
kendali semua proses administrasi. Memang perlu waktu untuk belajar
semua tools yang ada. Akan tetapi usaha Anda dalam mempelajarinya akan memberikan imbalan yang setimpal, dan menjadikan Anda sebagai super user.

Adapun hal lain yang kadang membuat sebagian pengguna Slackware merasa kurang sabar, adalah menunggu release terbaru. Mengingat tidak ada jadwal pasti kapan release terbaru akan dirilis. Hal ini berbeda
dengan distro lain seperti Open SUSE yang memiliki release cycle
setiap 8 bulan, atau Fedora dan Ubuntu yang setiap 6 bulan, bisa
dipastikan ada release terbaru. Akan tetapi informasi versi alpha,
beta dan release candidate pada next release Slackware selalu
diinformasikan pada ChangeLogs pada website resminya.

Hal yang menjadi pertimbangan utama dalam merilis versi terbaru adalah 
kestabilan sistem secara keseluruhan. Begitu dirilis, distro ini
didesain akan memiliki support kernel yang long term. Jadi begitu Anda
menginstalnya, ini akan menjadi jaminan bahwa sistem Anda akan tetap
up to date secara long term.

Bila Anda sudah bisa mengelola Slackware Linux Anda dengan cara
Slackware (Slackware way); maka bisa dipastikan bahwa Anda akan betah
menggunakannya. Karena stabil dan easy to use.

Hal itu saya buktikan sewaktu saya menggunakan Fedora 22, dimana
aplikasi LibreOffice Calc yang saya buat dan saya simpan sebagai
file.xlxs dan kemudian saya buka lagi, ternyata tidak dapat dibuka
secara normal. Kondisinya seperti masih loading file, akan tetapi
akhirnya tidak bisa dibuka.

Selain itu, saya juga menemukan pada Open SUSE 13.2 yang tidak bisa
mencetak dokumen dengan orientasi landscape. Adapun di Debian 8.1
tidak dapat wake up dari sleep secara normal, akan tetapi malah blank
screen.

Itu ada beberapa bug yang saya temukan pada ketiga distro tersebut,
yang menurut saya cukup mengganggu dalam berkomputasi.

Dari perjalanan saya tersebut, maka saya sekarang sudah menemukan
distro Linux terbaik, yaitu Slackware. Semoga tulisan ini bisa
menginspirasi Anda yang belum pernah menggunakan Slackware sama
sekali. Karena begitu Anda mengelola Linux Anda dengan menggunakan
cara "Slackware way", maka Anda akan menemukan easy to use-nya.

Demikian. Semoga bisa menginspirasi.

Wassalam,

How to Listen Audio Streaming in Firefox?

Bila kita bicara tentang browser, maka ada dua yang terbaik saat ini, yaitu Chrome / Chromimum dan Firefox. Karena sekitar tahun 2010 Firefo...