Monday, November 10, 2014

Text Editor

Membicarakan text editor dalam dunia Linux, seolah tidak pernah
selesai. Mengapa demikian ? Analoginya seperti Anda belajar Kimia,
maka laboratoriumnya adalah kehidupan itu sendiri. Karena "Life is a
Chemistry". Maka di Linux, dikenal "Everything is File".

Istilah "file"  identik dengan text file. Dan kalau kita akan
memanipulasi device atau piranti apapun yang terkoneksi dalam sebuah
sistem Linux, maka yang kita manipulasi itu adalah file yang menjadi
node dari device atau piranti tersebut.

Maka tidaklah mengherankan bila keberadaan text editor di Linux
penting. Bahkan ada istilah holy war in between vi vs emacs text
editor. Ada yang mengatakan bahwa vi itu mainstream, dll. 

Tetapi saya tidak akan masuk dalam polemik tersebut. Karena itu semua
bisa terjadi mengingat open source memungkinkan Anda untuk memilih
text editor mana yang menjadi favorit Anda.

Simple Text Editor


Bila pemahaman simple itu dari sisi end user, maka text editor yang
simple menurut saya adalah pico atau nano. Karena begitu Anda
menjalankan program nano, Anda bisa langsung mengetikkan text. Dan
menu-nya nongol disana. Anda tidak perlu mengingat-ingat command apa
yang harus diketik, bila ingin menyimpan file, dll.

Advance Text Editor


Bila Anda sudah mahir dengan nano, maka ada yang lebih keren darinya
yaitu vi atau vim. Karena dari sisi tampilannya lebih simple. Karena
yang muncul cuma blank screen dengan kursor saja. Dan semua menunya
tersembunyi. Seolah ingin memberi ruang yang luas kepada ruang editor
kita. Kalau kita menilik sejarahnya, ini adalah text editor asli
bawaan Unix. Yang kemudian di-"wariskan" ke Linux.

Bila Anda suka dengan hal-hal yang simple dari sisi tampilan, akan
tetapi agak sedikit misterius menunya, maka text editor vi atau vim
adalah text editor yang cocok.

Unique Text Editor


Selanjutnya ada text editor yang menurut penilaian saya adalah yang
paling unik dan paling misterius, yaitu Emacs. Ia memang misterius,
karena hampir command menunya diawali dengan kombinasi tombol Ctrl
atau Alt dan key yang lain.

Tetapi jangan cepat menyerah dulu, bahwa dibalik itu semua, ia
menawarkan fitur yang sangat lengkap dan mandiri. Karena ia sendiri
bisa menjadi tutor untuk dirinya sendiri. Bisa juga digunakan sebagai
calendar. Bahkan calculator sekalipun.

Oleh karena fitur yang lengkap dan penuh impresi misterius dan genius
itulah maka saya memberinya label unique text editor.

Konklusi


It seems like there is no conclusion here. But this writing is only to
open up your mind that there are many options, you can choose to be
your favorite text editor in Linux world. Which one is yours? Nano,
Vim or Emacs?

Wednesday, November 05, 2014

My Favorite Browser

Sewaktu Netscape masih mendominasi browser, maka ia berdiri seolah tidak terkalahkan oleh para pesaingnya. Akan tetapi dengan taktik yang kurang fair, IE dibundle dengan OS Windows, yang nota bene Windows adalah platform yang mendominasi saat itu. Maka lambat laun dominasi Netscape tergerus oleh keberadaan IE yang terbundel pada setiap OS Windows yang dirilis. Karena pengguna awam pada umumnya kurang care, yang penting bisa browsing internet. Titik.

Akhirnya Netscape lambat laun mati, karena kalah bersaing dengan IE. Singkat cerita muncullah browser alternatif yang dikembangkan dari source code Netscape; yaitu Firefox dengan dukungan Mozilla foundationnya. Maka dengan 2 kunci inovatif, yaitu source codenya dikembangkan dengan model open source dan ada inovasi tab browsing; maka lambat laun Firefox mulai menarik minat pengguna IE yang pada waktu itu tidak mengenal tab browsing. Yaitu IE versi 6.

Pada saat yang bersamaan, muncul juga browser Opera, dan Safari dari Apple yang merambah platform Windows juga. Maka terjadilah browser war diantara ke-empat browser tadi. Firefox yang sukup signifikan meraih ceruk pasar browser sampai 20%. Meski demikian, keberadaan IE masih mendominasi.

Kemudian, Google selaku search engine terkemuka di dunia tidak mau ketinggalan dalam hal ini, menelurkan Chrome. Dimana ada beberapa developer Firefox yang direkrut oleh Google untuk mengembangkan browser terbaru mereka. Maka terjadilah perang inovasi diantara mereka. Dari satu sisi, persaingan inovasi itu memberi ruang alternatif kepada pengguna. Dengan model pengembangan dan inovasi yang beragam dari tiap-tiap browser.

Kalau pengalaman saya, memang awalnya kenal browser itu ya IE 4.0, kemudian sekitar tahun 2005 mulai kenal Opera, akan tetapi hampir bersamaan, mulai mengenal Firefox 1.0. Dan akhirnya setelah keluar Firefox 1.5, maka ini adalah browser favorit saya dalam hal inovasi dan speed. Selain itu juga bila ada kerentanan dalam hal keamanan, hal itu dengan cepat ditambal (di patch) oleh developernya. Berbeda dengan IE yang begitu lamban, bila ada isu berkenaan dengan keamanan.

Dari sisi pengguna, yang dicari tentu adalah browser yang aman dari serangan hacker. Dan selalu di update dengan cepat, tanpa menunggu release cycle yang sudah ditetapkan oleh developernya.

Maka sejak Chrome dirilis dengan strategi fast release cycle, maka Firefox ikut-ikutan menggunakan strategi yang sama. Karena memang variasi serangan dunia maya itu selalu berkembang dengan cepat dari waktu ke waktu. Maka wajarlah, kerentanan itu perlu direspon segera. Dan hal itu saya temukan dalam dua browser ini.


Konklusi


Sampai sekarang, saya selalu merekomendasikan untuk menggunakan browser Firefox, karena ia dikembangkan dengan model full open source. Berbeda dengan Chrome yang dikembangkan diantara open source dan proprietary. Kalau ingin yang full open source dari Chrome, maka gunakanlah browser Chromium.

Akan tetapi itu semua kembali kepada Anda, mana yang akan Anda gunakan. Yang penting selalu menggunakan browser yang up to date. Dengan demikian browser Anda aman dari serangan-serangan dari dunia maya.

Do you know why?
Because security is a process, not a state.
Anyway, what is your browser?

How to Listen Audio Streaming in Firefox?

Bila kita bicara tentang browser, maka ada dua yang terbaik saat ini, yaitu Chrome / Chromimum dan Firefox. Karena sekitar tahun 2010 Firefo...