Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2015

Okular

Untuk menghindari ketergantungan dengan paket adobe reader yang selama ini menjadi andalan sebagai pdf reader, maka kini saatnya saya berganti ke aplikasi alternatif sejenis. Alasan lain adalah masalah inovasi, karena bagi pengguna Linux, adobe reader berhenti pada versi 9.5.5. Jadi paket adobe reader bagi pengguna Linux berhenti inovasinya pada versi 9.5.5 ini. Di dunia open source ditawarkan beragam pdf reader, mulai dari xpdf, mupdf, evince sampai okular. Bila melihat xpdf dan mupdf, kedua pdf reader ini sangat sederhana. Dan bila menilik kepada kelengkapan fitur, maka evince dan okular cukup menjanjikan. Akan tetapi dari segi performa dan tajamnya tampilan, maka okular terlihat lebih baik ketimbang evince. Meski fungsi search yang menjadi alasan utama saya untuk tetap bergantung pada adobe reader tidak (belum) saya temukan di okular. Akan tetapi untuk saat ini, okular cukup menjanjikan. Karena terasa begitu ringan dan lebih responsif daripada adobe reader. Adapun syarat agar okular b…

Browser War

Selama ini, ada cerita brower war yang pernah terjadi selama ini.
Diawali dengan Netscape yang menjadi reinkarnasi first browser dari
Mozaic. Yang pada awalnya mendominasi dunia browser, kemudian IE
datang belakangan untuk melawan dominasi Netscape. Dan akhirnya
Netscape mati (suri) setalah kalah dari IE, karena IE
menggunakan strategi browser IE yang dibundle dengan OS Windows.

Kemudian fase ke-2 adalah dengan dihidupkannya lagi Netscape dalam
bentuk lain, yaitu Firefox dengan model pengembangan open source. Dan
akhirnya terjadilah browser war yang ke-2, yaitu antara IE vs Firefox.
Firefox sempat menguasai pangsa pasar sampai 25% secara global, akan
tetapi kemudian sejak dikeluarnya Chrome oleh Google, mengalami
penurunan jumlah penggunanya yang sampai sekarang hanya berkisar
antara 20% saja. Browser war fase sekarang meliputi Chrome, Firefox
dan IE. Dengan inovasi yang cepat pada Chrome dan Firefox; adapun IE
mengalami stagnan dalam hal inovasi karena kelamaan update.

Akan tetapi menjelang dirilis…

Fedora 22

It is about another Linux distro. Not a fashion thing.

Sebenarnya saya sudah berkenalan dengan Fedora yang pada waktu itu
masih memakai nama Fedora Core versi 4. Akan tetapi sayang tidak bisa
memutas CD audio koleksi saya. Akhirnya saya move ke Ubuntu, yang bisa
memutar CD audio, once the installation is complete.

Sewaktu menggunakan Fedora 22, ada impresi keren yang muncul,
diantaranya dengan gnome 3.16 dan adanya extention window list
sehingga, window yang aktif muncul dibagian bottom bar. Sementara
notification pada gnome 3.16 ditata ulang penempatannya dan menjadi
satu dengan kalender yang ada di bagian top bar. Mengingat bila tidak
ada window list, maka seakan-akan kita kehilangan kontrol atas window
yang sedang aktif. Dan window list mempermudah kita dalam
berpindah-pindah dari satu window ke window yang lain. Jadi lebih
manageable.

Satu hal mengapa saya selalu mencoba distro lain selain Slackware
adalah karena desktop environment gnome yang di drop di Slackware
sejak versi 12. Dan pada versi 3…

Masalah Print Landscape di OpenSUSE

Ada keanehan yang saya temui sewaktu menggunakan Open SUSE, yaitu bahwa sewaktu mencetak dokumen dengan orientasi landscape tetap saja dicetak secara potrait.
Dan inilah yang menjadi satu ganjalan di Open SUSE. Semoga problem ini bisa diselesaikan pada release selanjutnya. Dengan tampilan GUI yang menawan, tentu fitur ini menjadi semacam bug yang mengganjal bila tidak segera dibenahi.

Beberapa Catatan Tentang Linux

Tulisan ini lebih merupakan catatan penulis berkenaan dengan Linux. Semoga ada beberapa yang bisa diimprove dan diimplementasikan pada release selanjutnya.


Graphical User InterfacePada umumnya, end user akan merasakan impresi pertama adalah saat pertama kali melihat performa tampilan GUI-nya. Maklum di abad 21 ini, semuanya sudah dipermudah dengan hanya klak-klik tombol mouse. Adapun pada hakekatnya command prompt itu lebih powerful ketimbang menggunakan aplikasi sejenis dalam mode GUI. Dan konsep ini selalu melekat pada orang-orang yang memang berkecimpung mengelola server. Maklum saja, karena server tidak memerlukan tampilan GUI sama sekali pada hakekatnya. Karena alasan performa server terbebani dengan tampilan GUI.

Bila dalam ranah server, saya setuju dengan tampilan text based dalam mengelola server tersebut. Akan tetapi pada ranah desktop, maka yang menjadi point atraktif sebuah OS adalah tampilan GUI yang memukau sebening kristral. Bila Anda pernah membandingkan tampilan GUI Linu…