Friday, May 31, 2013

Komputer Yang Berisik

Setelah sekitar 6 tahun menggunakan komputer desktop yang sama, ada beberapa penurunan performa. Terutama pada noise. Adapun noise yang dominan adalah noise dari fan pc. Ada 3 fan yang ada di komputer dektop yang selama ini saya gunakan, yaitu fan PSU, fan Casing dan fan CPU. Dari ketiga fan tersebut, ternyata yang paling berisik adalah fan CPU-nya.

Hal itu saya ketahui dari program fanspeed yang saya install, dimana ia mengontrol 2 fan, yaitu fan casing dan fan CPU. Jadi setelah ketahuan ia yang dominan, maka 1 tahun yang lalu saya ganti tuh fan CPU dengan yang second, karena ternyata beli yang baru tidak ada. Kalaupun ada, musti beli sama cpu heatsink-nya. Karena sebenarnya fan CPU itu adalah bagian dari CPU heatsink-nya. Dan ternyata setelah 1 tahun dipakai, berisik lagi tuh suaranya. Bahkan rasanya seperti mesin saja, kalau sedang berkomputasi.

Akhirnya hari ini saya putuskan untuk mengganti fan CPU dengan yang baru, alias mengganti heatsink CPU-nya juga. Sesampai di rumah, saya coba cabut heatsink-nya, eh.. ternyata microprocessor AMD-nya ikut tercabut dengan heatsink tsb. Lha bagaimana cara masang microprocessornya, kalau posisinya nempel di heatsink yang lama? Karena ada tuas pengait yang mengunci microprocessor AMD-nya.

Setelah saya kontak ke toko penjual heatsink tadi, mereka menjelaskan: bahwa hal itu terjadi, karena sudah lama dipakai, jadi pasta yang ada diantara microprocessor dan heatsink tersebut jadi mengeras. Caranya gunakan cutter, bisa dilepas kok.
Ada rencana untuk meminta bantuan ke toko-nya, karena saya belum pernah melakukannya. Akan tetapi karena tidak sabar, akhirnya saya coba sendiri dulu. Setelah beberapa kali disayat dengan cutter, ternyata microprocessornya bisa lepas juga tuh. Alhamdulillah.

Akhirnya saya coba untuk memasang sendiri, dengan 1 pin yang bengkok akibat tercabut tadi, saya luruskan dulu. Dan Alhamdulillah, bisa masuk ke socket-nya dengan gampang. Dan langsung deh, saya kunci tuasnya. 

Sebenarnya perlu pasta untuk memasang heatsink ke microprocessornya, akan tetapi tadi sempat dicek sama si penjualnya bahwa pastanya masih basah. Jadi saya putuskan langsung pasang saja.

Padahal tadi sudah disarankan sama si penjualnya, bahwa microprocessornya harus dibersihkan dulu sebelum dipasang heatsink-nya. Akan tetapi hal itu tidak saya lakukan.
Setelah terpasang, Alhamdulillah bisa nyala tuh komputernya, meski di tengah jalan saat loading OS-nya, berhenti, karena relay HDD-nya intermittent.

Akhirnya, saya coba telusuri, koneksi kabel HDD-nya. Setelah itu ternyata, HDD-nya tidak terdeteksi. Setelah konektor catu daya ke HDD-nya diganti, bisa ok. Sekarang gantian RAM-nya error, karena bunyi tit-tit-tit. Ya sudah dibersihkanlah keempat keping RAM-nya, yaitu dengan cara membersihkan debunya dengan kapas + alkohol. Adapun pin-nya dibersihkan dengan penghapus pensil.
Setelah itu, Ada gangguan di VGA Card-nya, karena mau menampilkan BIOS-nya, akan tetapi tidak respon. Meskipun alarm error sudah tidak berbunyi.Ya sudah, dibersihkan lagi khususnya di bagian VGA card-nya.

Akhirnya bisa booting dengan normal tuh komputernya. Alhamdulillah.
***
Hal penting yang saya pelajari hari ini adalah, bahwa kalau merawat komputer kuno, komputernya jadi sensitif. Karena bertumpuk debu yang ada di motherboard-nya. Yang benar adalah dengan menggunakan vaccum cleaner untuk membersihkan debu. Adapun kalau masih belum bersih, biasanya saya gunakan alkohol+kapas untuk membersihkannya.

Alhamdulillah, akhirnya ada pelajaran berharga yang saya dapatkan hari ini. Dan sekarang komputer desktopnya sudah tidak berisik lagi tuh. Thank You God!

Tuesday, May 28, 2013

Debian 7.0

Setelah menggunakan Debian hasil instalasi dari live cd xfce, ternyata paket ini sangat direkomendasikan untuk keperluan home/office. Karena semua keperluan untuk office dan di rumah sudah ada. Hanya sedikit tambahan aplikasi yang diperlukan yaitu: Adobe Acrobat Reader dan Banshee (music player). Adapun untuk text terminal console, font favorit saya adalah Anonymous Pro mengingat font Fixed seperti yang terdapat di Slackware tidak ada di Debian.

Performance Debian 7.0 dengan instalasi ini sangat responsif, karena hanya membutuhkan sekitar 2.6 GB. Adapun untuk browser-nya tidak menggunakan Firefox, akan tetapi Iceweasel yang sebenarnya adalah Firefox yang di rebranding khusus untuk distro Debian. Jadi instalasi plugins-nya sama dengan Firefox. Adapun lokasi plugins untuk flash player-nya ada di:
/usr/lib/mozilla/plugins/

Hanya satu kekurangan yang saya dapatkan yaitu, adanya bug saat akan wake up dari kondisi suspend. Karena layar tetap gelap, meskipun hard disk-nya terlihat sudah aktif. Semoga dalam waktu dekat ada patch-nya.

Wednesday, May 22, 2013

Upgrade Kernel di Slackware

Mengingat ada update security di Slackware 14, yaitu kernel update dari release 3.2.29 ke 3.2.45. Maka baru saja saya melakukan upgrade kernel-nya.
Setelah # slackpkg upgrade-all, maka menurut catatan di changelog-nya, kita perlu mengupgrade mkinitrd dan menginstal ulang LILO.Jadi apa yang saya lakukan adalah sbb:
 

# mkinitrd -c -m ext3
# lilo


Ada yang menarik, begitu direboot, ternyata boot loader yang tadinya GRUB (karena saat ini menggunakan triple OS) menjadi hilang dan diganti oleh
LILO. Jadi pilihannya cuma Windows dan Slackware saja. Adapun Debian-nya jadi menghilang.

Untuk mengembalikan boot loader ke GRUB, ada caranya, yaitu dengan meng-uninstal LILO dan me-revert back ke boot loader sebelumnya. Setelah membaca manual LILO-nya. Maka saya coba menggunakan perintah:


# lilo -u -s /boot/boot.0800

-u : adalah opsi uninstall.
-s /boot/boot.0800 : adalah s (save file) /boot/boot.0800. Adapun file /boot/boot.0800 adalah boot sector sebelum proses instalasi LILO dilakukan. Dalam hal ini adalah boot sector dari boot loader GRUB.

Dan setelah di reboot, Alhamdulillah, boot sectornya kembali ke GRUB lagi.

Thank You LILO :)

Dari pengalaman ini, maka bila kita sudah menggunakan boot loader selain LILO, maka step instal ulang LILO tidak diperlukan. Demikian.

Tuesday, May 21, 2013

Bagaimana Mengganti Jenis Font di Linux Console

Setelah mencicipi Debian 7.0 dengan XFCE-nya, saya terkesan dengan performanya, karena ia memang didesain untuk live CD dengan desktop environment XFCE. Dan ternyata meskipun masih dalam kondisi live CD, ia begitu responsif. Selain itu, saya juga menemukan jenis font di console yang begitu indah dan clear. Setelah coba diutak-atik, akhirnya ketemu juga tuh default font-nya, yaitu:CyrAsia-Fixed16.psf.gz
Dan berikut cara bagaimana cara mengubah font di console Slackware agar menggunakan font tersebut.
  1. Copy file tersebut (yang ada di folder /usr/share/consolefonts dari sistem Debian 7.0) ke folder /usr/share/kbd/consolefonts dalam sistem Slackware 14.0.
  2. Change mode file /etc/rc.d/rc.font sebagai file yang executable. Yaitu dengan cara # chmod +x /etc/rc.d/fc.font.
  3. Tambahkan baris berikut ke dalam file rc.font tersebut: setfont /usr/share/kbd/consolefonts/CyrAsia-Fixed16.psf.gz
  4. Reboot system Slackware-nya.
 Demikian ...

Monday, May 20, 2013

Peta Jalan Memahami Slackware

Kesan pertama saat menggunakan Slackware adalah sulit dimanage, manakala kita ingin mengupgrade software/paket. Akan tetapi sekarang kuncinya sudah saya temukan, yaitu dengan cara mengikuti arahan dari Patrick Volkerding dalam e-mailnya kepada para pengguna Slackware. Adapun e-mailnya bisa dibaca dengan cara sbb.:
       # mail
Ingat, kita mesti login dengan root. Dan disana kita akan menemukan bagaimana cara yang terbaik untuk memanage paket/software Slackware kita dengan lebih baik. Disana kita akan diarahkan ke tool-tool seperti pkgtool, slackpkg, upgradepkg, removepkg, dll. Adapun untuk lebih memperdalamnya, tinggal dibaca manualnya (misal: # man pkgtool). Karena dokumentasi paling baik adalah dari si pembuat paket/software tersebut.
Dari sini, kita bisa memahami bagaimana cara memanage paket Slackware dengan cara yang benar. Dan tidak berantakan. Adapun paket Slackware yang direkomendasikan adalah dari www.slackbuilds.org; atau bisa juga dari Alien Pastures di http://alien.slackbook.org/blog/
Dengan demikian, kesan sulit akan hilang dengan sendirinya. Dan kelebihan Slackware adalah bahwa semua proses administrasi dilakukan di console. Karena memang Slackware tetap memegang teguh konsep Unix.
"Keep It Simple Stupid"

Tripple OS

Kalau pembahasan dual OS, sudah banyak diulas. Dan sudah dipraktekkan juga. Baik dengan 1 HDD maupun 2 HHD. Tetap pada hakekatnya sama saja.
Dan ternyata tripple OS, bisa juga dilakukan, seperti yang saya alami yaitu: Windows 7, Slackware 14 dan Debian 7. Adapun urutan instalasinya adalah sbb.:
  1. Windows 7
  2. Slackware 14
  3. Debian 7 dengan instal GRUB-nya di MBR
 Ada hal yang menarik, bahwa bila kita menggunakan boot loader LILO (bawaan dari Slackware) ternyata ia tidak dapat mendeteksi keberadaan Debian 7. Akan tetapi bila menggunakan GRUB (boot loader bawaan Debian), ia bisa mendeteksi semua OS yang ada dalam sistem tersebut.
Alhamdulillah, akhirnya bisa juga tuh menginstall tiga OS dalam satu sistem, tanpa menggunakan Virtual Machine.

How to Listen Audio Streaming in Firefox?

Bila kita bicara tentang browser, maka ada dua yang terbaik saat ini, yaitu Chrome / Chromimum dan Firefox. Karena sekitar tahun 2010 Firefo...