Skip to main content

Posts

Linux Yang Baik Hati

Ada beberapa pengguna Windows yang kadang curhat ke aku tentang gangguan virus saat mereka berkomputasi. Salah satunya adalah saudaraku sendiri yang tergolong end user.

Mengapa file-file yang ada di flash disknya kok tiba-tiba menghilang? Atau mengapa jadi aneh?

Rupanya setelah aku periksa dengan Linux tentu saja, terlihat jelas bahwa ada virus disana. Yaitu jenis virus yang menyembunyikan file-nya dan membuat shortcut ke folder yang akan di eksekusi seolah-olah itu adalah file kepunyaan pengguna. Akan tetapi disitulah jebakan batman-nya. Yaitu kode jahat yang akan dijalankan, begitu kita meng-klik short cut tsb.

Bila kita menganalisa dengan  Windows, maka fenomena keanehan tersebut akan berjalan. Karena virus tersebut memang didesain untuk menyasar Windows.

Akan tetapi bila kita menggunakan Linux, maka jelas sudah bahwa itu adalah kerjaan sebuah virus. Dan sudah beberapa kali aku menemui kasus seperti itu. Dan akhirnya apa yang aku lakukan?

Cukup aku ambil data yang di sembunyikan…
Recent posts

Windows 10

Tidak seperti biasa, kali ini aku akan bercerita tentang Windows 10
yang nota bene bukan open source software.

Disini aku akan bercerita dari sisi interface yang dibawanya dan
bagaimana respon ku terhadap konsep yang dibawanya.

Setelah hampir satu dekade meninggalkan Windows, ada satu hal konsisten
yang tetap dibawa Windows; yaitu kemudahan end user yang menjadi
sellingpoint dari OS ini.

Begitu mencoba memahami pola pikir Windows 10, maka impresi-nya adalah
kelelahan di mataku, karena Windows tidak mengenal kosep virtual
terminal (console) seperti Linux.

Jadi begitu start, usage sampai shutdown; semua dikerjakan dalam mode
grafis (GUI/Graphical User Interface). Berbeda banget dengan Linux
yang menawarkan konsep virtual terminal (VT). Alias ada mode text
untuk monitor, selain GUI juga ada tentu saja.

Impresi menggunakan Windows yang seperti itu, membuat mataku selalu
terpukau (lebih tepatnya tegang), karena dipaksa untuk memandangi
layar monitor dalam mode grafis terus. Dan hal itu membuat mataku
cepat…

Distro Pilihan

Memilih distro itu ibarat kita memilih seorang istri atau suami. Satu
tahun yang lalu, saya berkesempatan ketemu lagi dengan salah satu guru
saya dalam dunia open source, yaitu Firdaus (saya biasa memanggilnya
demikian, karena usianya memang lebih muda). Dia adalah orang yang
mengajarkan tentang Linux untuk pertama kalinya ke saya dalam suasana
kelas tatap muka. Pembelajaran itu terjadi sudah sekitar 10 tahun yang
lalu.

Setelah ngobrol basa-basi kesana kemari, lalu dengan antusias
saya jelaskan bahwa saya sekarang pakai distro Slackware. Secara
spontan Firdaus memberi respon "fuih".

Lho ada apa dengan Slackware? Itulah pertanyaan yang muncul dari dalam
batinku. Kesan yang saya tangkap adalah bahwa distro itu adalah distro
yang paling susah dipelajari menurut Firdaus.

Benar juga, bahwa setelah saya tanya balik, rupanya dia menggunakan
distro Fedora.

Distro Fedora masuk kategori memiliki tingkat kesulitan yang
sedang. Sementara distro Slackware memiliki tingkat kesulitan paling
tinggi, alias p…

Office App In The Cloud

Ada beberapa comments berkenaan dengan online applet dari Google Docs dan Office Online dari Microsoft. Bahwa yang lebih keren itu ya Google Docs, karena tampilannya simple. Akan tetapi kelebihan Office Online itu sudah ready to use to write sesuai keinginan kita. Adapun pada Office Online terkadang saking canggihnya jadi membuat saya menjadi bingung cara mengelolanya. Karena terlalu canggih itu. Seperti membuat halaman saja, bisa begitu rumit. Hal itu saya temukan bila kita mengedit dengan menggunakan Office 2013 versi desktop. Kalau di Libre Office itu simple saja, jadi formating semua diserahkan ke kita. Akan tetapi memang untuk formating sudah disediakan juga, akan tetapi tidak sebegitu canggih seperti di Office 2013. Hal itu jugalah yang saya rasakan di Google Docs. Jadi kesederhanaan itu membuatnya menjadi lebih unggul.

Sinkronisasi dan Harmoni

Rupanya sinkronisasi dan harmoni dikenal juga dalam komputasi. 

Hal itu terjadi pada komputer jadoel yang masih setia berkomputasi denganku. Yaitu dalam hal pemilihan dan jumlah app yang perlu diinstal dalam PC jadoel ku dengan hardware sekelas AMD Athlon(tm) 64 Processor 3400+, dan RAM 1.5 GB saja. 

Begitu aku tambah dengan app Spotify untuk mendengarkan musik. Rupanya berdampak kepada waktu shutdown yang lebih lama, tidak seperti biasanya.

Akhirnya aku lakukan optimasi kepada app yang lain. Yaitu untuk PDF reader yang selama ini, aku percayakan pada Okular, akhirnya aku ganti ke Evince yang lebih ringan dan simple. Termasuk men-non-aktifkan VLC app sebagai multimedia player.

Dan akhirnya performa-nya bisa kembali seperti semula. At least in my feeling.
KonklusiSinkronisasi dan harmoni rupanya tidak hanya berlaku dalam sebuah komposisi sebuah lagu. Akan tetapi dalam dunia software komputer demikian juga adanya. :)


BIG BANG! BIG DATA!

Sering kita dengar istilah Theory Big Bang! Yang mengilustrasikan
bagaimana semesta ini diciptakan Tuhan. Dan di era sekarang muncul
istilah BIG DATA.

Sebenarnya istilah BIG DATA ini sudah lama aku baca, terutama dari IBM
yang concern dengan hal itu.

Bila kita tarik lagi ke belakang, terutama sejarah Google dimana salah
satu pendirinya (I forgot which one) mengatakan sewaktu pertama kali
masuk kuliah Harvard (?), bahwa: "Aku ingin memasukkan apa saja yang
ada di dunia ke dalam sebuah komputer". Itu adalah statement visioner
dari salah satu pendiri Google tadi.

Dan rupanya, statemen tersebut "menginspirasi" IBM untuk melakukan riset
tentang Big Data.

Adapun Big Data adalah semua data digital yang berserakkan di dunia
maya yang dipelajari, sehingga diketahui pola dan perilaku pengguna
internet tersebut. Dengan demikian, maka si pengguna akan merasa
heran, mengapa paman Google bisa mengerti apa saja yang menjadi minat
kita. Itu semua karena teknologi artificial intelligence atau bias…

KOMPUTER BRANDED VS KOMPUTER RAKITAN

Berikut adalah pengalaman dan studi komparatif antara komputer
branded HP-ku yang dibeli sekitar tahun 2007, dan dua buah komputer
rakitan yang menggunakan processor intel dan AMD.

Dari dua buah komputer yang dirakit sekitar tahun 2013 yang
menggunakan processor intel i3 dengan motherboard gigabyte dan di
tahun 2014 yang menggunakan processor AMD A8; dapat dikatakan bahwa
dari sisi spesifikasi, tentu komputer brandedku yang dibeli sekitar 10
tahun yang lalu, tentu memiliki spesifikasi yang jauh lebih jadoel.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu --yaitu di awal tahun 2017 ini
-- kedua buah komputer rakitan tsb diatas; satu persatu mengalami
kerusakan dan memaksa untuk direpair ke vendor asli yang merakit
komputer tsb; dikarenakan aku pun sudah menyerah tidak dapat
menyelesaikannya. Yang processor AMD A8, terpaksa diganti
motherboard-nya. Demikian juga dengan yang intel i3.

Adapun solusi yang diberikan vendor komputer AMD tsb, adalah selain
mengganti motherboard yang memang rusak; adalah dengan
mereko…