Sunday, January 07, 2018

How to Listen Audio Streaming in Firefox?

Bila kita bicara tentang browser, maka ada dua yang terbaik saat ini,
yaitu Chrome / Chromimum dan Firefox. Karena sekitar tahun 2010
Firefox menjadi browser terbaik dari sisi keamanan, kemudian satu
tahun kemudian ganti Chrome yang menjadi pemenangnya.

Bila kita membandingkan kedua jenis browser tersebut, ada hal menarik,
yaitu bahwa dari sisi kecepatan memang lebih cepat Chrome / Chromium
dibanding dengan Firefox untuk saat ini.

Akan tetapi memang ada kelebihan Firefox ketimbang Chrome / Chromium;
yaitu adanya fitur reader view yang secara default sudah disematkan
pada versi terbarunya. Yaitu fitur yang membuang distraksi-distraksi
yang tidak perlu dari sebuah webpage, dan kita fokus ke content-nya.

Oleh karena itulah maka aku tetap merekomendasikan Firefox ketimbang
Chrome/Chromium.

Akan tetapi ada hal yang mengganjal yaitu sewaktu kita akan
mendengarkan audio streaming seperti di web shoutcast.com; yang nota
bene menggunakan file format mp3.

Mengapa kita tidak bisa mendengarkan audio streaming format mp3 di Firefox, sementara di Chrome/Chromium bisa?


Itu semua karena masalah hak paten. Akan tetapi problem tersebut, bisa
diselesaikan dengan adanya solusi openH264 dari Cisco. Yang secara
default memang disematkan di Firefox. Akan tetapi hal itu tidak serta
merta membuat Firefox yang baru saja diinstal, langsung bisa memutar
file berekstensi mp3.

Setelah dicari-cari, maka solusinya adalah kita perlu menginstall dua
paket berikut: ffmpeg dan x264. Kedua file tersebut merupakan syarat
agar implementasi x264 di Firefox berjalan dengan baik.

Adapun, command line yang diperlukan saat melakukan kompilasi paket
ffmpeg; adalah kita perlu mengaktifkan x264nya dengan cara :

X264=yes ./ffmpeg.SlackBuild

tentu saja setelah paket x264-nya terinstall terlebih dahulu.

Setelah proses tersebut selesai dilakukan, maka kita bisa mendengarkan
audio streaming mp3 seperti di shoutcast dengan baik.

Enjoy!

Saturday, December 23, 2017

Fedora 27

Mengikuti perkembangan distro Fedora, seolah mengikuti perkembangan
software open source yang begitu cepat. Karena release cycle-nya
adalah setiap 6 bulan, pasti ada new release, sejak Fedora Core 4.0
sampai sekarang Fedora 27. Tentu ada beda sebanyak 23 release cycle
alias 11 tahun berselang maka tentu ada perkembangan yang berubah
drastis tentu saja.

Fedora Code 4.0 (FC 4.0) yang waktu itu masih menggunakan installer
anaconda, saat ini anaconda mengalami perubahan drastis. Karena sejak
release Fedora 22 (?), source code anaconda dibuat dari awal (create
from scratch), alias dirubah secara drastis dari awal lagi.

Ada konsistensi dari awal sampai sekarang bahwa warna biru menjadi
pilihan distro ini. Ada hal menarik yang aku jumpai sewaktu mencoba
install lagi Fedora 27, yaitu begitu sulitnya menangani partisi hard
disk dengan installer default anaconda dalam mode grafis (GUI).

Mengingat di hard disk yang akan saya timpa tersebut sudah ada
Slackware-nya. Maka apa yang saya lakukan adalah dengan cara command
line atau melalui virtual console. Jadi pada waktu instalasi memasuki
fase partisi hard disk, maka yang aku lakukan adalah pindah ke console
2 (Virtual Terminal 2), yaitu dengan menekan Ctrl-Alt-F2.

Command yang saya gunakan adalah cfdisk. Ini adalah cara primitif
dalam melakukan partisi hard disk. Dan benar saja, dengan cara inilah
maka aku berhasil menginstal Fedora 27 dengan sukses.

Padahal sebelumnya, amat sangat sulit memahami instruksi grafis
anaconda di fase partisi hard disk. 

Apa yang bisa aku ambil dari sini adalah bahwa ilmu dari distro
Slackware yang nota bene memang full command line, bisa diterapkan ke
distro lain seperti Fedora 27. 

Ini adalah salah satu bukti bahwa management sebuah komputer bisa
dikelola dengan cara paling sederhana (basic), alias bisa dikerjakan
melalui command line dalam mode text.

KONKLUSI

  1. Instruksi command line cfdisk ternyata lebih powerfull ketimbang partisi yang ditawarkan oleh installer anaconda Fedora 27.
  2. Dengan menguasai command line cfdisk, tidak perlu pusing lagi belajar dalam mode grafisnya. Cukup pelajari manualnya dari # man cfdisk, dan segalanya bisa diselesaikan dengan lebih simple dan to the point.
  3. Simple command line is more powerfull than GUI one. And keyboard is more powerfull than mouse.


#What Do You Think?

Tuesday, October 10, 2017

Linux Yang Baik Hati

Ada beberapa pengguna Windows yang kadang curhat ke aku tentang gangguan virus saat mereka berkomputasi. Salah satunya adalah saudaraku sendiri yang tergolong end user.

Mengapa file-file yang ada di flash disknya kok tiba-tiba menghilang? Atau mengapa jadi aneh?

Rupanya setelah aku periksa dengan Linux tentu saja, terlihat jelas bahwa ada virus disana. Yaitu jenis virus yang menyembunyikan file-nya dan membuat shortcut ke folder yang akan di eksekusi seolah-olah itu adalah file kepunyaan pengguna. Akan tetapi disitulah jebakan batman-nya. Yaitu kode jahat yang akan dijalankan, begitu kita meng-klik short cut tsb.

Bila kita menganalisa dengan  Windows, maka fenomena keanehan tersebut akan berjalan. Karena virus tersebut memang didesain untuk menyasar Windows.

Akan tetapi bila kita menggunakan Linux, maka jelas sudah bahwa itu adalah kerjaan sebuah virus. Dan sudah beberapa kali aku menemui kasus seperti itu. Dan akhirnya apa yang aku lakukan?

Cukup aku ambil data yang di sembunyikan tersebut ke hard disk yang sehat. Kemudian format ulang Flash Disknya. Dan taraaa.. case closed successfuly.

Thank You Linux ... :)

Wednesday, October 04, 2017

Windows 10

Tidak seperti biasa, kali ini aku akan bercerita tentang Windows 10
yang nota bene bukan open source software.

Disini aku akan bercerita dari sisi interface yang dibawanya dan
bagaimana respon ku terhadap konsep yang dibawanya.

Setelah hampir satu dekade meninggalkan Windows, ada satu hal konsisten
yang tetap dibawa Windows; yaitu kemudahan end user yang menjadi
sellingpoint dari OS ini.

Begitu mencoba memahami pola pikir Windows 10, maka impresi-nya adalah
kelelahan di mataku, karena Windows tidak mengenal kosep virtual
terminal (console) seperti Linux.

Jadi begitu start, usage sampai shutdown; semua dikerjakan dalam mode
grafis (GUI/Graphical User Interface). Berbeda banget dengan Linux
yang menawarkan konsep virtual terminal (VT). Alias ada mode text
untuk monitor, selain GUI juga ada tentu saja.

Impresi menggunakan Windows yang seperti itu, membuat mataku selalu
terpukau (lebih tepatnya tegang), karena dipaksa untuk memandangi
layar monitor dalam mode grafis terus. Dan hal itu membuat mataku
cepat lelah.

Hal itu mungkin bisa dijelaskan demikian, bahwa mode text adalah mode
dengan resolusi yang memang didesain untuk text. Beda dengan mode
grafis, maka resolusi optimal-lah yang diaktifkan. Dan hal itu memberi
kesan/impresi ke mata untuk bekerja lebih terbelalak, ketimbang dalam
mode text. Karena ukuran pixel-nya menjadi lebih kecil, sehingga mata
secara tanpa kita sadari akan bekerja extra keras untuk bisa menangkap
satu buah pixel tersebut.

Dari sisi instalasi, masih konsisten juga, yaitu double klik, dan klik
next-next-next. Hanya satu rumusnya. Dari sisi end user awam memang
hal itu memudahkan. Akan tetapi aku punya pendapat yang
berbeda. Menurutku hal itu justru membuat otak kita menjadi
malas. Karena rumusnya cuma satu buah.

Beda dengan Linux yang memberi banyak opsi, dari satu distro ke distro
yang lain meski masih dalam satu keluarga, memiliki manajemen paket
yang berbeda beda. Dan hal ini memberi impulse yang positif ke otak
agar berfikir. Itu menurut aku sih.


#What Do You Think ?

Sunday, August 27, 2017

Distro Pilihan

Memilih distro itu ibarat kita memilih seorang istri atau suami. Satu
tahun yang lalu, saya berkesempatan ketemu lagi dengan salah satu guru
saya dalam dunia open source, yaitu Firdaus (saya biasa memanggilnya
demikian, karena usianya memang lebih muda). Dia adalah orang yang
mengajarkan tentang Linux untuk pertama kalinya ke saya dalam suasana
kelas tatap muka. Pembelajaran itu terjadi sudah sekitar 10 tahun yang
lalu.

Setelah ngobrol basa-basi kesana kemari, lalu dengan antusias
saya jelaskan bahwa saya sekarang pakai distro Slackware. Secara
spontan Firdaus memberi respon "fuih".

Lho ada apa dengan Slackware? Itulah pertanyaan yang muncul dari dalam
batinku. Kesan yang saya tangkap adalah bahwa distro itu adalah distro
yang paling susah dipelajari menurut Firdaus.

Benar juga, bahwa setelah saya tanya balik, rupanya dia menggunakan
distro Fedora.

Distro Fedora masuk kategori memiliki tingkat kesulitan yang
sedang. Sementara distro Slackware memiliki tingkat kesulitan paling
tinggi, alias paling sulit dipelajari.

Kesulitan distro Slackware menurut kebanyakan Linuxer (pengguna Linux)
itu terletak pada command line yang masih tetap dipegang teguh sampai
sekarang dalam mengelola tugas-tugas admin. Era dimana touch screen
interface
sudah merambah sampai ke pelosok. Ini kok masih ada distro
yang tetap setia dengan tradisi menuliskan semua command-nya dengan
interface keyboard ? Aneh sekali bukan?

Selain itu tentang dependensi aplikasi/program yang masih harus
dikelola secara manual. Beda dengan Fedora yang memiliki kemampuan
untuk melakukan auto dependensi.

Sebagai bahan ilustrasi, aplikasi/program Emacs yang memiliki
dependensi aplikasi/program imagemagick (salah satunya), maka bila
kita melakukan instalasi Emacs pada distro Fedora, maka secara
otomatis paket imagemagick juga akan terinstal. (auto dependensi-nya
berjalan secara otomatis).

Hal tersebut tidak belaku pada distro Slackware. Dan ketiadaan "auto
dependensi"
di Slackware itu-lah yang mungkin membuat pengguna awam
Linuxer non-Slackware, seperti Firdaus tadi, menganggap bahwa distro
Slacware itu memiliki tingkat kesulitan tinggi.

Akan tetapi, however I would like to say:
Many Thanks Firdaus for your sharing about Linux. It's priceless for
me..

Wednesday, June 14, 2017

Office App In The Cloud

Ada beberapa comments berkenaan dengan online applet dari Google Docs dan Office Online dari Microsoft. Bahwa yang lebih keren itu ya Google Docs, karena tampilannya simple. Akan tetapi kelebihan Office Online itu sudah ready to use to write sesuai keinginan kita.
Adapun pada Office Online terkadang saking canggihnya jadi membuat saya menjadi bingung cara mengelolanya. Karena terlalu canggih itu. Seperti membuat halaman saja, bisa begitu rumit. Hal itu saya temukan bila kita mengedit dengan menggunakan Office 2013 versi desktop.
Kalau di Libre Office itu simple saja, jadi formating semua diserahkan ke kita. Akan tetapi memang untuk formating sudah disediakan juga, akan tetapi tidak sebegitu canggih seperti di Office 2013. Hal itu jugalah yang saya rasakan di Google Docs.
Jadi kesederhanaan itu membuatnya menjadi lebih unggul.

Monday, June 12, 2017

Sinkronisasi dan Harmoni

Rupanya sinkronisasi dan harmoni dikenal juga dalam komputasi. 

Hal itu terjadi pada komputer jadoel yang masih setia berkomputasi denganku. Yaitu dalam hal pemilihan dan jumlah app yang perlu diinstal dalam PC jadoel ku dengan hardware sekelas AMD Athlon(tm) 64 Processor 3400+, dan RAM 1.5 GB saja. 

Begitu aku tambah dengan app Spotify untuk mendengarkan musik. Rupanya berdampak kepada waktu shutdown yang lebih lama, tidak seperti biasanya.

Akhirnya aku lakukan optimasi kepada app yang lain. Yaitu untuk PDF reader yang selama ini, aku percayakan pada Okular, akhirnya aku ganti ke Evince yang lebih ringan dan simple. Termasuk men-non-aktifkan VLC app sebagai multimedia player.

Dan akhirnya performa-nya bisa kembali seperti semula. At least in my feeling.

Konklusi

Sinkronisasi dan harmoni rupanya tidak hanya berlaku dalam sebuah komposisi sebuah lagu. Akan tetapi dalam dunia software komputer demikian juga adanya. :)


How to Listen Audio Streaming in Firefox?

Bila kita bicara tentang browser, maka ada dua yang terbaik saat ini, yaitu Chrome / Chromimum dan Firefox. Karena sekitar tahun 2010 Firefo...