Posts

Distro Pilihan

Memilih distro itu ibarat kita memilih seorang istri atau suami. Satu
tahun yang lalu, saya berkesempatan ketemu lagi dengan salah satu guru
saya dalam dunia open source, yaitu Firdaus (saya biasa memanggilnya
demikian, karena usianya memang lebih muda). Dia adalah orang yang
mengajarkan tentang Linux untuk pertama kalinya ke saya dalam suasana
kelas tatap muka. Pembelajaran itu terjadi sudah sekitar 10 tahun yang
lalu.

Setelah ngobrol basa-basi kesana kemari, lalu dengan antusias
saya jelaskan bahwa saya sekarang pakai distro Slackware. Secara
spontan Firdaus memberi respon "fuih".

Lho ada apa dengan Slackware? Itulah pertanyaan yang muncul dari dalam
batinku. Kesan yang saya tangkap adalah bahwa distro itu adalah distro
yang paling susah dipelajari menurut Firdaus.

Benar juga, bahwa setelah saya tanya balik, rupanya dia menggunakan
distro Fedora.

Distro Fedora masuk kategori memiliki tingkat kesulitan yang
sedang. Sementara distro Slackware memiliki tingkat kesulitan paling
tinggi, alias p…

Office App In The Cloud

Ada beberapa comments berkenaan dengan online applet dari Google Docs dan Office Online dari Microsoft. Bahwa yang lebih keren itu ya Google Docs, karena tampilannya simple. Akan tetapi kelebihan Office Online itu sudah ready to use to write sesuai keinginan kita. Adapun pada Office Online terkadang saking canggihnya jadi membuat saya menjadi bingung cara mengelolanya. Karena terlalu canggih itu. Seperti membuat halaman saja, bisa begitu rumit. Hal itu saya temukan bila kita mengedit dengan menggunakan Office 2013 versi desktop. Kalau di Libre Office itu simple saja, jadi formating semua diserahkan ke kita. Akan tetapi memang untuk formating sudah disediakan juga, akan tetapi tidak sebegitu canggih seperti di Office 2013. Hal itu jugalah yang saya rasakan di Google Docs. Jadi kesederhanaan itu membuatnya menjadi lebih unggul.

Sinkronisasi dan Harmoni

Rupanya sinkronisasi dan harmoni dikenal juga dalam komputasi. 

Hal itu terjadi pada komputer jadoel yang masih setia berkomputasi denganku. Yaitu dalam hal pemilihan dan jumlah app yang perlu diinstal dalam PC jadoel ku dengan hardware sekelas AMD Athlon(tm) 64 Processor 3400+, dan RAM 1.5 GB saja. 

Begitu aku tambah dengan app Spotify untuk mendengarkan musik. Rupanya berdampak kepada waktu shutdown yang lebih lama, tidak seperti biasanya.

Akhirnya aku lakukan optimasi kepada app yang lain. Yaitu untuk PDF reader yang selama ini, aku percayakan pada Okular, akhirnya aku ganti ke Evince yang lebih ringan dan simple. Termasuk men-non-aktifkan VLC app sebagai multimedia player.

Dan akhirnya performa-nya bisa kembali seperti semula. At least in my feeling.
KonklusiSinkronisasi dan harmoni rupanya tidak hanya berlaku dalam sebuah komposisi sebuah lagu. Akan tetapi dalam dunia software komputer demikian juga adanya. :)


BIG BANG! BIG DATA!

Sering kita dengar istilah Theory Big Bang! Yang mengilustrasikan
bagaimana semesta ini diciptakan Tuhan. Dan di era sekarang muncul
istilah BIG DATA.

Sebenarnya istilah BIG DATA ini sudah lama aku baca, terutama dari IBM
yang concern dengan hal itu.

Bila kita tarik lagi ke belakang, terutama sejarah Google dimana salah
satu pendirinya (I forgot which one) mengatakan sewaktu pertama kali
masuk kuliah Harvard (?), bahwa: "Aku ingin memasukkan apa saja yang
ada di dunia ke dalam sebuah komputer". Itu adalah statement visioner
dari salah satu pendiri Google tadi.

Dan rupanya, statemen tersebut "menginspirasi" IBM untuk melakukan riset
tentang Big Data.

Adapun Big Data adalah semua data digital yang berserakkan di dunia
maya yang dipelajari, sehingga diketahui pola dan perilaku pengguna
internet tersebut. Dengan demikian, maka si pengguna akan merasa
heran, mengapa paman Google bisa mengerti apa saja yang menjadi minat
kita. Itu semua karena teknologi artificial intelligence atau bias…

KOMPUTER BRANDED VS KOMPUTER RAKITAN

Berikut adalah pengalaman dan studi komparatif antara komputer
branded HP-ku yang dibeli sekitar tahun 2007, dan dua buah komputer
rakitan yang menggunakan processor intel dan AMD.

Dari dua buah komputer yang dirakit sekitar tahun 2013 yang
menggunakan processor intel i3 dengan motherboard gigabyte dan di
tahun 2014 yang menggunakan processor AMD A8; dapat dikatakan bahwa
dari sisi spesifikasi, tentu komputer brandedku yang dibeli sekitar 10
tahun yang lalu, tentu memiliki spesifikasi yang jauh lebih jadoel.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu --yaitu di awal tahun 2017 ini
-- kedua buah komputer rakitan tsb diatas; satu persatu mengalami
kerusakan dan memaksa untuk direpair ke vendor asli yang merakit
komputer tsb; dikarenakan aku pun sudah menyerah tidak dapat
menyelesaikannya. Yang processor AMD A8, terpaksa diganti
motherboard-nya. Demikian juga dengan yang intel i3.

Adapun solusi yang diberikan vendor komputer AMD tsb, adalah selain
mengganti motherboard yang memang rusak; adalah dengan
mereko…

How To Make XFCE Looks Like Gnome Shell

Image
Sekilas Anda akan melihat bahwa tampilan berikut mirip desain dari desktop environment Gnome Shell, padahal ini adalah dekstop environment XFCE.































Berikut adalah app yang saya tambahkan:
xfce4-datetime-plugin, yang digunakan sebagai pengganti info clock di top panel.xfce4-whiskermenu-plugin, yang digunakan sebagai pengganti "Activities".Kedua app tersebut saya dapatkan dari slackbuilds.org.

Adapun konfigurasi separator pada top panel adalah sebagai berikut:

























Dari pengalaman saya, bisa disimpulkan bahwa ada satu hal yang menjadi inti dari inovasi Gnome Shell, yaitu kegunaan tombol "Super" (atau tombol keyboard dengan lambang Windows) yang akan menampilkan semua menu. Ini adalah ide yang genuine dari Gnome Shell untuk tidak selalu bergantung kepada mouse. It's a cool thing.




From Hard Coding to App

Bagaimana sebuah app dibuat?

Aplikasi atau disingkat app, adalah sebuah aplikasi yang berjalan
dengan fungsi tertentu. App yang didesain berjalan di platform A tidak
bisa berjalan di platform B, demikian juga sebaliknya. Sebagai contoh,
app calculator yang didesain berjalan di OS android tidak dapat
dijalankan di OS iOS, demikian juga sebaliknya.

Berikut adalah tahapan sebuah app itu dibuat dari awal (di create from
scratch):

(1) Hard Coding

   Ini adalah proses menuliskan kode pada sebuah bahasa pemrograman
   tertentu, misalnya bahasa C. Yaitu berupa urutan instruksi yang
   membuat sebuah fungsi kalkulator dalam bahasa C. Hasil dari hard
   coding ini, disebut sebagai source code (kode sumber). Yaitu berupa
   plain text yang bisa dibaca oleh semua jenis platform (OS) apapun.
(2) Compile
   Proses kompilasi ini akan mengubah source code dari proses hard
   coding diatas ke dalam specifik platform (OS) tertentu. Misalnya
   dikompilasi ke dalam platform Linux. Hasil kompilasi ini adalah
   berupa app…