Tuesday, October 10, 2017

Linux Yang Baik Hati

Ada beberapa pengguna Windows yang kadang curhat ke aku tentang gangguan virus saat mereka berkomputasi. Salah satunya adalah saudaraku sendiri yang tergolong end user.

Mengapa file-file yang ada di flash disknya kok tiba-tiba menghilang? Atau mengapa jadi aneh?

Rupanya setelah aku periksa dengan Linux tentu saja, terlihat jelas bahwa ada virus disana. Yaitu jenis virus yang menyembunyikan file-nya dan membuat shortcut ke folder yang akan di eksekusi seolah-olah itu adalah file kepunyaan pengguna. Akan tetapi disitulah jebakan batman-nya. Yaitu kode jahat yang akan dijalankan, begitu kita meng-klik short cut tsb.

Bila kita menganalisa dengan  Windows, maka fenomena keanehan tersebut akan berjalan. Karena virus tersebut memang didesain untuk menyasar Windows.

Akan tetapi bila kita menggunakan Linux, maka jelas sudah bahwa itu adalah kerjaan sebuah virus. Dan sudah beberapa kali aku menemui kasus seperti itu. Dan akhirnya apa yang aku lakukan?

Cukup aku ambil data yang di sembunyikan tersebut ke hard disk yang sehat. Kemudian format ulang Flash Disknya. Dan taraaa.. case closed successfuly.

Thank You Linux ... :)

Wednesday, October 04, 2017

Windows 10

Tidak seperti biasa, kali ini aku akan bercerita tentang Windows 10
yang nota bene bukan open source software.

Disini aku akan bercerita dari sisi interface yang dibawanya dan
bagaimana respon ku terhadap konsep yang dibawanya.

Setelah hampir satu dekade meninggalkan Windows, ada satu hal konsisten
yang tetap dibawa Windows; yaitu kemudahan end user yang menjadi
sellingpoint dari OS ini.

Begitu mencoba memahami pola pikir Windows 10, maka impresi-nya adalah
kelelahan di mataku, karena Windows tidak mengenal kosep virtual
terminal (console) seperti Linux.

Jadi begitu start, usage sampai shutdown; semua dikerjakan dalam mode
grafis (GUI/Graphical User Interface). Berbeda banget dengan Linux
yang menawarkan konsep virtual terminal (VT). Alias ada mode text
untuk monitor, selain GUI juga ada tentu saja.

Impresi menggunakan Windows yang seperti itu, membuat mataku selalu
terpukau (lebih tepatnya tegang), karena dipaksa untuk memandangi
layar monitor dalam mode grafis terus. Dan hal itu membuat mataku
cepat lelah.

Hal itu mungkin bisa dijelaskan demikian, bahwa mode text adalah mode
dengan resolusi yang memang didesain untuk text. Beda dengan mode
grafis, maka resolusi optimal-lah yang diaktifkan. Dan hal itu memberi
kesan/impresi ke mata untuk bekerja lebih terbelalak, ketimbang dalam
mode text. Karena ukuran pixel-nya menjadi lebih kecil, sehingga mata
secara tanpa kita sadari akan bekerja extra keras untuk bisa menangkap
satu buah pixel tersebut.

Dari sisi instalasi, masih konsisten juga, yaitu double klik, dan klik
next-next-next. Hanya satu rumusnya. Dari sisi end user awam memang
hal itu memudahkan. Akan tetapi aku punya pendapat yang
berbeda. Menurutku hal itu justru membuat otak kita menjadi
malas. Karena rumusnya cuma satu buah.

Beda dengan Linux yang memberi banyak opsi, dari satu distro ke distro
yang lain meski masih dalam satu keluarga, memiliki manajemen paket
yang berbeda beda. Dan hal ini memberi impulse yang positif ke otak
agar berfikir. Itu menurut aku sih.


#What Do You Think ?

How to Listen Audio Streaming in Firefox?

Bila kita bicara tentang browser, maka ada dua yang terbaik saat ini, yaitu Chrome / Chromimum dan Firefox. Karena sekitar tahun 2010 Firefo...