Wednesday, July 25, 2012

Software Itu Ibarat Mainan


Software itu bisa diibaratkan dengan mainan. Mengapa demikian? Karena setelah Anda puas bermain dengannya, maka pada suatu saat Anda akan bosan dengannya. Jadi seperti halnya mainan, ia memiliki fitur-fitur tertentu pada hardware tertentu.

Bila Anda menggunakan software proprietary, dan kejenuhan itu datang. Apa yang akan Anda lakukan? Biasanya Anda kembali ke toko software tadi untuk mencari fitur-fitur baru lainnya. Bila fitur yang Anda cari ada pada software yang terbaru, maka yang akan disarankan oleh toko tadi adalah upgrade software.

Selain fitur, yang menjadi tuntutan user tadi juga berkenaan dengan performance. Bila software baru yang memiliki fitur lebih canggih, maka biasanya akan memakan banyak resource komputer. Dan bila performance ingin ditingkatkan, maka yang akan disarankan kepada Anda adalah meng-upgrade hardware-nya. Misalnya menambah kapasitas Hard Disk, atau menambah Memory.

Jadi tidak jarang bila Anda ingin mengupgrade fitur pada software yang lebih baru tersebut, biasanya ada persyaratan minimal (minimal requirement) dari sisi hardwarenya. Alias upgrade dari 2 sisi yaitu software dan juga hardware-nya. Baru setelah itu fitur baru dan performance yang sesuai dengan keinginan Anda akan diperoleh.

Sekarang mari kita lihat apa yang ditawarkan pada dunia open source berkenaan dengan perilaku user seperti tersebut diatas? Dalam dunia open source banyak pilihan software untuk mengerjakan tugas yang sama. Termasuk juga desktop manager ada banyak pilihan seperti gnome, kde, xfce, blackbox, dan lain-lain. Bila Anda bosan dengan tampilan desktop komputer Anda, maka Anda bisa mengganti icon, warna, dan beberapa komponen desktop komputer Anda agar sesuai dengan keinginan Anda.

Bagaimana bila yang terjadi adalah penurunan performa dengan software yang baru tersebut? Maka Anda bisa beralih ke distro lain yang lebih ringan, yang memang dirancang untuk berjalan optimal pada kondisi hardware yang minim. Misalnya Vector Linux, atau yang lain. Atau bisa juga Anda bisa ganti desktop managernya, yang sebelumnya menggunakan gnome atau kde, ada baiknya Anda coba gunakan desktop manager yang lebih ringan seperti xcfe atau blackbox.

Dengan demikian, fitur dan performance bisa Anda peroleh dengan mengotak-atik pilihan software aplikasi dan juga desktop manager, bahkan distro yang Ada.

Dari pengalaman saya, dulu sewaktu saya menggunakan distro lawas (mungkin masih menggunakan kernel Linux versi 2.2), maka Linux tersebut hanya bisa mendeteksi mouse ps2. Adapun mouse usb belum bisa dikenali. Hal ini ternyata bisa diatasi dengan cara mengupgrade kernel-nya paling tidak ke versi 2.6 keatas. Inilah yang disebut dengan mengcompile kernel Linux. Menarik bukan?

Akan tetapi meng-compile kernel belum pernah saya coba. Mungkin lain waktu kita coba. Open source betul-betul telah membuat kita menjadi rajin untuk belajar. Bukan sekedar menjadikan Anda sebagai user biasa. Akan tetapi menjadi pengguna yang cerdas. Become a smart user.

Asyiknya Dunia Open Source


Bila Anda sudah terbiasa menggunakan software proprietary, maka bila sudah menemui titik jenuh, maka Anda akan kembali ke penjual software untuk mencari yang sesuai dengan keinginan Anda. Lalu apa yang terjadi? Upgrade adalah jawaban yang akan Anda terima. Yang biasanya menuntut upgrade dari sisi hardware juga, agar software yang upgrade tersebut bisa berjalan.

Kondisi ini jauh berbeda dengan open source, bila kejenuhan menghampiri Anda. Maka Anda akan memperoleh alternatif lain. Bila Anda bosan dengan tampilan icon-nya, maka Anda bisa menggantinya sesuai dengan keinginan Anda. Bila Anda bosan dengan desktop managernya, Anda bisa berganti desktop managernya. Bahkan yang paling ekstrim, bila Anda bosan dengan distro A, maka Anda bisa ganti ke distro B, demikian seterusnya.

Ditambah dengan perkembangan kernel Linux yang selalu berkembang, maka bila Anda bosan dengan kernel linux versi tertentu, Anda bisa mengcompile-nya sendiri. Asyik bukan?

Dan ternyata dengan open source, Anda bisa hidup kok. Jangan takut dengan perubahan. Ikuti keasyikkan mempelajari hal-hal yang baru di dunia open source. Maka Anda akan memperoleh ilmu yang lebih banyak dan bervariasi lagi. Banyak pilihan distro, banyak pilihan desktop manager, banyak pilihan tampilan, tema, icon, fonts dan lain-lain.

All it is free and legal.

Post Installation Slackware 13.37

1. Instalasi Firefox
--------------------
Download paket dalam bentuk tar.gz
$ cd ~
$ tar -xvf firefoxxx.tar.bz2
Untuk menjalankan:
$ ~/firefox/firefox

2. Instalasi flashplayer
------------------------
$ cd ~
$ tar -xvf installxxx.tar.gz

Copy libflashplayer.so -nya ke folder plugins:
$ cd ~/.mozilla
$ mkdir plugins
$ cp ~/libflashplayer.so ~/.mozilla/plugins

Copy semua file hasil extract-nya ke system:
$ cd ~
$ cp usr/* /usr

Hapus file extract-nya:
$ rm -r usr

3. Instalasi Adobe Reader
-------------------------
Download paket rpm-nya.
# cp AdbeRdrxxx.rpm /opt
# rpm -ivh --nodeps AdbeRdrxxx.rpm

4. Instalasi Libre Office
-------------------------
Download paket rpm-nya.
# cp LibOxxx.rpm.tar.gz /opt

# gunzip LibOxxx.rpm.tar.gz
# tar -xvf LibOxxx.rpm.tar

# cd ke RPMS
# rpm -ivh --nodeps *.rpm

Desktop integration
# cd desktop-integration
# rpm -ivh --nodeps
Note: Ini untuk desktop xfce

Hapus file extract-nya yang ada di folder LibOxxx.
Adapun file instalasi Libre Office-nya ada di folder libreoffice-3.5

5. Instalasi J-edit
-------------------
Download paket slackware-nya
# upgradepkg --install-new jedit-xxx.tgz

6. XMMS
-------
Cara menjalankan:
$ xmms /mnt/cdrom

Setting:
Output plugin : OSS Driver → configure: audio device : default dan mixer default : default
Input plugin: CD Audio player → configure:  Digital audio extraction.

Friday, July 20, 2012

Firefox

Good improvement terjadi dalam browser idaman Firefox. Dulu sewaktu pake Ubuntu, bila ada release baru Firefox, kita tidak bisa mengupdate-nya. Musti menunggu paket Firefox di Ubuntu-nya. Baru nanti bisa kita gunakan Firefox terbarunya.
Sekarang dengan Slackware, begitu ada update terbaru di Firefox, maka bila kita klik "about Firefox", maka otomatis akan di upgrade ke yang terbaru. Adapun Firefox yang aku pakai adalah instalasi dari source code langsung Mozilla.
Good Deed!

Slackware

Setelah lama menggunakan Ubuntu. Akhirnya pindah haluan ke Slackware. Dan Alhamdulillah, ternyata Slackware adalah distro yang stabil dan ringan. Aku putuskan untuk menggunakan xfce. Dan ternyata xfce memberikan performa yang lebih cepat ketimbang gnome.
Dibanding dengan ubuntu + gnome; Slackware + xfce memberikan performa yang lebih ringan dan cepat. Eh.. ternyata Slackware itu gampang juga kok. Asal kitanya mau belajar. Dan mau berubah, jangan mau dimanjakan dengan klak-klik klak-klik saja.
Karena ada filosofinya, yaitu:
Bila kita menggunakan Ubuntu, maka kita akan belajar tentang Ubuntu. Bila kita menggunakan Fedora, maka kita akan belajar tentang Fedora. Akan tetapi, bila kita menggunakan Slackware, maka kita akan belajar Linux.
Belajar Linux itu mudah, dan aku rekomendasikan untuk mempelajarinya dari The Linux Command Line. Yang bisa di donlut free disini.

Cheers !

How to Listen Audio Streaming in Firefox?

Bila kita bicara tentang browser, maka ada dua yang terbaik saat ini, yaitu Chrome / Chromimum dan Firefox. Karena sekitar tahun 2010 Firefo...