Skip to main content

Posts

Kaca Mata Hitam dan Katarak

Ada hal yang menarik, sewaktu saya mencermati talk show "Ayo Hidup Sehat" di TvOne sekitar Medio Februari 2018, yaitu tentang Katarak. Disana dijelaskan apa dan mengapa tentang katarak. Tema ini menarik bagiku, karena pada sekitar awal Januari 2018, aku ikut mengantarkan ayahku untuk berobat ke dokter mata, karena ada gangguan penglihatan beliau. Adapun keluhannya adalah bahwa beliau tidak dapat melihat pada jarak tertentu, yang mengakibatkan ayahku tidak berani naik motor lagi. Setelah didiagnosa dokter, akhirnya dokter memberi penjelasan bahwa ada suspect katarak di mata sebelah kanan. Saran dokter adalah untuk diobati tetes mata untuk penderita katarak, dan diberi resep kaca mata. Adapun kemampuan sensor mata ayahku sudah mengalami penurunan fungsi, karena faktor usia (sudah kepala 8). Selain itu, disarankan untuk menghindari kontak langsung dengan sinar matahari. Jadi gunakan topi sewaktu beraktifitas diluar. Kemudian info lengkapnya aku peroleh, sewaktu menonton acara ta...

How to Listen Audio Streaming in Firefox?

Bila kita bicara tentang browser, maka ada dua yang terbaik saat ini, yaitu Chrome / Chromimum dan Firefox. Karena sekitar tahun 2010 Firefox menjadi browser terbaik dari sisi keamanan, kemudian satu tahun kemudian ganti Chrome yang menjadi pemenangnya. Bila kita membandingkan kedua jenis browser tersebut, ada hal menarik, yaitu bahwa dari sisi kecepatan memang lebih cepat Chrome / Chromium dibanding dengan Firefox untuk saat ini. Akan tetapi memang ada kelebihan Firefox ketimbang Chrome / Chromium; yaitu adanya fitur reader view yang secara default sudah disematkan pada versi terbarunya. Yaitu fitur yang membuang distraksi-distraksi yang tidak perlu dari sebuah webpage, dan kita fokus ke content-nya. Oleh karena itulah maka aku tetap merekomendasikan Firefox ketimbang Chrome/Chromium. Akan tetapi ada hal yang mengganjal yaitu sewaktu kita akan mendengarkan audio streaming seperti di web shoutcast.com; yang nota bene menggunakan file format mp3. Mengapa kita tidak bisa mendengarkan a...

Fedora 27

Mengikuti perkembangan distro Fedora , seolah mengikuti perkembangan software open source yang begitu cepat. Karena release cycle-nya adalah setiap 6 bulan, pasti ada new release, sejak Fedora Core 4.0 sampai sekarang Fedora 27. Tentu ada beda sebanyak 23 release cycle alias 11 tahun berselang maka tentu ada perkembangan yang berubah drastis tentu saja. Fedora Code 4.0 (FC 4.0) yang waktu itu masih menggunakan installer anaconda, saat ini anaconda mengalami perubahan drastis. Karena sejak release Fedora 22 (?), source code anaconda dibuat dari awal ( create from scratch ), alias dirubah secara drastis dari awal lagi. Ada konsistensi dari awal sampai sekarang bahwa warna biru menjadi pilihan distro ini. Ada hal menarik yang aku jumpai sewaktu mencoba install lagi Fedora 27, yaitu begitu sulitnya menangani partisi hard disk dengan installer default anaconda dalam mode grafis (GUI). Mengingat di hard disk yang akan saya timpa tersebut sudah ada Slackware -nya. Maka apa y...

Linux Yang Baik Hati

Ada beberapa pengguna Windows yang kadang curhat ke aku tentang gangguan virus saat mereka berkomputasi. Salah satunya adalah saudaraku sendiri yang tergolong end user. Mengapa file-file yang ada di flash disknya kok tiba-tiba menghilang? Atau mengapa jadi aneh? Rupanya setelah aku periksa dengan Linux tentu saja, terlihat jelas bahwa ada virus disana. Yaitu jenis virus yang menyembunyikan file-nya dan membuat shortcut ke folder yang akan di eksekusi seolah-olah itu adalah file kepunyaan pengguna. Akan tetapi disitulah jebakan batman-nya. Yaitu kode jahat yang akan dijalankan, begitu kita meng-klik short cut tsb. Bila kita menganalisa dengan  Windows, maka fenomena keanehan tersebut akan berjalan. Karena virus tersebut memang didesain untuk menyasar Windows. Akan tetapi bila kita menggunakan Linux, maka jelas sudah bahwa itu adalah kerjaan sebuah virus. Dan sudah beberapa kali aku menemui kasus seperti itu. Dan akhirnya apa yang aku lakukan? Cukup aku ambil data yang di s...

Windows 10

Tidak seperti biasa, kali ini aku akan bercerita tentang Windows 10 yang nota bene bukan open source software. Disini aku akan bercerita dari sisi interface yang dibawanya dan bagaimana respon ku terhadap konsep yang dibawanya. Setelah hampir satu dekade meninggalkan Windows, ada satu hal konsisten yang tetap dibawa Windows; yaitu kemudahan end user yang menjadi sellingpoint dari OS ini. Begitu mencoba memahami pola pikir Windows 10, maka impresi-nya adalah kelelahan di mataku, karena Windows tidak mengenal kosep virtual terminal (console) seperti Linux. Jadi begitu start, usage sampai shutdown; semua dikerjakan dalam mode grafis (GUI/Graphical User Interface). Berbeda banget dengan Linux yang menawarkan konsep virtual terminal (VT). Alias ada mode text untuk monitor, selain GUI juga ada tentu saja. Impresi menggunakan Windows yang seperti itu, membuat mataku selalu terpukau (lebih tepatnya tegang), karena dipaksa untuk memandangi layar monitor dalam mode grafis terus. Dan hal itu memb...

Distro Pilihan

Memilih distro itu ibarat kita memilih seorang istri atau suami. Satu tahun yang lalu, saya berkesempatan ketemu lagi dengan salah satu guru saya dalam dunia open source, yaitu Firdaus (saya biasa memanggilnya demikian, karena usianya memang lebih muda). Dia adalah orang yang mengajarkan tentang Linux untuk pertama kalinya ke saya dalam suasana kelas tatap muka. Pembelajaran itu terjadi sudah sekitar 10 tahun yang lalu. Setelah ngobrol basa-basi kesana kemari, lalu dengan antusias saya jelaskan bahwa saya sekarang pakai distro Slackware . Secara spontan Firdaus memberi respon "fuih". Lho ada apa dengan Slackware? Itulah pertanyaan yang muncul dari dalam batinku. Kesan yang saya tangkap adalah bahwa distro itu adalah distro yang paling susah dipelajari menurut Firdaus. Benar juga, bahwa setelah saya tanya balik, rupanya dia menggunakan distro Fedora . Distro Fedora masuk kategori memiliki tingkat kesulitan yang sedang. Sementara distro Slackware memiliki tingkat kesulitan pali...

Office App In The Cloud

Ada beberapa comments berkenaan dengan online applet dari Google Docs dan Office Online dari Microsoft. Bahwa yang lebih keren itu ya Google Docs, karena tampilannya simple. Akan tetapi kelebihan Office Online itu sudah ready to use to write sesuai keinginan kita. Adapun pada Office Online terkadang saking canggihnya jadi membuat saya menjadi bingung cara mengelolanya. Karena terlalu canggih itu. Seperti membuat halaman saja, bisa begitu rumit. Hal itu saya temukan bila kita mengedit dengan menggunakan Office 2013 versi desktop. Kalau di Libre Office itu simple saja, jadi formating semua diserahkan ke kita. Akan tetapi memang untuk formating sudah disediakan juga, akan tetapi tidak sebegitu canggih seperti di Office 2013. Hal itu jugalah yang saya rasakan di Google Docs. Jadi kesederhanaan itu membuatnya menjadi lebih unggul.