Skip to main content

Tripple OS

Kalau pembahasan dual OS, sudah banyak diulas. Dan sudah dipraktekkan juga. Baik dengan 1 HDD maupun 2 HHD. Tetap pada hakekatnya sama saja.
Dan ternyata tripple OS, bisa juga dilakukan, seperti yang saya alami yaitu: Windows 7, Slackware 14 dan Debian 7. Adapun urutan instalasinya adalah sbb.:
  1. Windows 7
  2. Slackware 14
  3. Debian 7 dengan instal GRUB-nya di MBR
 Ada hal yang menarik, bahwa bila kita menggunakan boot loader LILO (bawaan dari Slackware) ternyata ia tidak dapat mendeteksi keberadaan Debian 7. Akan tetapi bila menggunakan GRUB (boot loader bawaan Debian), ia bisa mendeteksi semua OS yang ada dalam sistem tersebut.
Alhamdulillah, akhirnya bisa juga tuh menginstall tiga OS dalam satu sistem, tanpa menggunakan Virtual Machine.

Comments

Popular posts from this blog

Linux Yang Baik Hati

Ada beberapa pengguna Windows yang kadang curhat ke aku tentang gangguan virus saat mereka berkomputasi. Salah satunya adalah saudaraku sendiri yang tergolong end user.

Mengapa file-file yang ada di flash disknya kok tiba-tiba menghilang? Atau mengapa jadi aneh?

Rupanya setelah aku periksa dengan Linux tentu saja, terlihat jelas bahwa ada virus disana. Yaitu jenis virus yang menyembunyikan file-nya dan membuat shortcut ke folder yang akan di eksekusi seolah-olah itu adalah file kepunyaan pengguna. Akan tetapi disitulah jebakan batman-nya. Yaitu kode jahat yang akan dijalankan, begitu kita meng-klik short cut tsb.

Bila kita menganalisa dengan  Windows, maka fenomena keanehan tersebut akan berjalan. Karena virus tersebut memang didesain untuk menyasar Windows.

Akan tetapi bila kita menggunakan Linux, maka jelas sudah bahwa itu adalah kerjaan sebuah virus. Dan sudah beberapa kali aku menemui kasus seperti itu. Dan akhirnya apa yang aku lakukan?

Cukup aku ambil data yang di sembunyikan…

Masalah "Open Containing Folder" di Firefox

Sebagaimana lazimnya bila kita sudah selesai mendownload sebuah file dengan menggunakan Firefox, maka kita akan menuju ke folder tempat file tersebut di download. Ada sedikit permasalahan, saat kita menggunakannya di lingkungan Linux.


Bukan aplikasi file manager yang terbuka, akan tetapi kadang-kadang malah aplikasi lain, seperti Audacious.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi di lingkungan Linux? Karena di Linux, tidak ada standardisasi file manager yang dipakai. Ada yang menggunakan nautilus, konqueror, dolphin, thunar, dll.
Untuk XFCE, dengan file manager Thunar. Berikut adalah cara untuk memecahkan masalah tersebut:
Edit file mimeapps.list berikut

$ nano ~/.local/share/applications/mimeapps.list
Pada bagian [Default Applications], tambahkan baris berikut:

inode/directory=Thunar.desktopDemikian.

How To Make XFCE Looks Like Gnome Shell

Sekilas Anda akan melihat bahwa tampilan berikut mirip desain dari desktop environment Gnome Shell, padahal ini adalah dekstop environment XFCE.































Berikut adalah app yang saya tambahkan:
xfce4-datetime-plugin, yang digunakan sebagai pengganti info clock di top panel.xfce4-whiskermenu-plugin, yang digunakan sebagai pengganti "Activities".Kedua app tersebut saya dapatkan dari slackbuilds.org.

Adapun konfigurasi separator pada top panel adalah sebagai berikut:

























Dari pengalaman saya, bisa disimpulkan bahwa ada satu hal yang menjadi inti dari inovasi Gnome Shell, yaitu kegunaan tombol "Super" (atau tombol keyboard dengan lambang Windows) yang akan menampilkan semua menu. Ini adalah ide yang genuine dari Gnome Shell untuk tidak selalu bergantung kepada mouse. It's a cool thing.