Skip to main content

Posts

Mengganti Wallpaper di Blackbox Window Manager

Secara default, blackbox window manager menawarkan styles: Blue, Gray, Green, Purple dan Red. Apabila kita bosan dengan wallpaper warna solid yang ditawarkan, maka berikut adalah cara bagaimana mengganti wallpaper color tersebut dengan gambar yang kita suka sebagai wallpapernya. Perlu diketahui bahwa lokasi styles tersebut tersimpan pada direktori: /usr/share/blackbox/styles/ Langkah pertama adalah mencopy salah satu styles tersebut, sebagai contoh ketik: # cp Purple Chelsea Setelah itu, editlah file Chelsea tersebut: # emacs Chelsea Kemudian cari perintah berikut: rootCoomand: bsetroot -solid rgb:77/aa/77 Gantilah menjadi: rootCommand: bsetbg /home/purnomo/Pictures/danau.jpg Lalu simpan perubahan tersebut. Kemudian kita jalankan blackbox dengan perintah: $ startx. Maka akan muncullah wallpaper danau.jpg tersebut. Demikian.

Window Manager Openbox

Untuk mengakses aplikasi berbasis GUI di Linux, selama ini saya selalu mengandalkan dekstop environment. Setelah puas dengan Gnome dan XFCE, maka sekarang saatnya kita mengeksplorasi Window Manager, bukan Desktop Environment. Window Manager adalah program yang memanage Window saat kita menggunakan aplikasi berbasis GUI. Teman saya yang memberi statement bahwa icons itu tidak ada gunanya, ia sudah lama menggunakan Window Manager blackbox. Pada awalnya, saya coba menggunakan blackbox, akan tetapi ada kebingungan. Karena tombol Alt-Tab tidak berfungsi untuk switch aplikasi. Rupanya, kita perlu tambahkan bbkeys, agar tombol Alt-Tab bisa digunakan untuk switch aplikasi yang ada. Dan lagi, blackbox versi terakhir yaitu versi 0.70.1 dirilis tahun 2005. Alias sudah 11 tahun berselang. Akhirnya saya ketemu dengan Openbox, yang rupanya dikembangkan dari Blackbox. Dan ini memberi tawaran yang berbeda dengan Blackbox dengan tampilan panel yang simple dibawah. Openbox menawarkan tampilan blank wall...

Slackware Yang Simple

"Simple is beautiful" kelihatannya adalah terminologi yang cocok disematkan kepada Slackware, yang memang memegang teguh tradisi Unix. Karena kita tidak akan menemukan kerumitan seperti halnya pada openSUSE, sebagai contoh, bila kita ingin membaca manual dari sebuah command, misalnya $ man passwd Maka pada openSUSE kita akan ditanyakan, mau melihat man(1) atau man(1p) ? Karena yang man(1p) itu erat kaitannya dengan pemrograman. Sementara man(1) itu adalah berkaitan dengan normal user. Hal itu tidak akan kita temukan pada Slackware. Jadi begitu kita mengetikkan $ man passwd, maka langsung muncul manual passwd tersebut. Yang lain, adalah sewaktu kita melakukan scroll layar dengan tombol Pg Down, maka di Slackware akan tergulir full 1 layar. Beda dengan openSUSE yang hanya akan bergulir setengah layar. Bila kita ingin membuat sleep komputer kita, pada openSUSE kita perlu ketik # systemctl suspend, sementara di Slackware cukup ketik # pm-suspend. Karena memang semua init system d...

Visual Studio Code Untuk Belajar Python, C, C++ dan C#

Setelah mencari IDE (Integrated Development Environment) apa yang terbaik untuk mendevelop Python, Akhirnya saya mendapatkan pencerahan setelah menemukan Visual Studio Code . Rupanya ada perbedaan antara IDE dengan Editor. Bila Editor adalah semacam text editor saja, seperti notepad++, Emacs, vim, maka IDE adalah editor + compiler. Oleh karena itu, maka IDE biasanya lebih berat dalam hal performance. Karena memang membundle editor + compilernya. Secara default, Visual Studio Code didesain bagi pengembang aplikasi web, yang meliputi html, css, java script, type script. Jadi untuk mendevelop bahasa pemrograman seperti Python, perlu sedikit cara agar bisa digunakan juga sebagai compiler. Setting Python Tekan F1, lalu ketik Task: Configure Taks Runner. Kemudian gantilah "command" : "python.sh", "isShellCommand" : true, "showOutput" : "always", "args" : ["{$file}"] Itu artinya bila kita menjalankan task runner (run ...

Mengeksplorasi Desktop Environment Dengan Open SUSE

Bila Anda termasuk orang yang suka mengeksplorasi desktop environment, maka distro yang enak untuk itu adalah Open SUSE. Karena dengan beberapa jenis desktop environment bisa kita install pada distro ini tanpa mengalami gangguan. Secara oficial, open SUSE menawarkan desktop environment KDE, Gnome, XFCE, Mate. Akan tetapi kita juga bisa menambahkan desktop environment lain seperti yang ditawarkan distro Solus dengan desktop environment budgie-desktop. Bila ingin mengeksplorasi desktop environment budgie-desktop, bisa dilakukan dengan cara menginstallnya dari software open suse, tinggal masukkan kata kunci budgie-desktop, maka kita bisa install dengan metode 1-click install. Begitu juga bila kita ingin mencicipi desktop environtment Cinnamon. Hal itu bisa kita coba dari software.opensuse.org . Ini adalah kelebihan lain dari Open SUSE yang bisa memberi kesempatan kita untuk mengeksplorasi desktop environment yang lain. Tanpa perlu mendownload file iso dari distro lain. Selamat bereks...

Cara Membuat File Runnable jar Dari Command Line

Jar atau java archieve adalah cara melakukan arsip di pemrograman Java. Dan ini adalah cara yang simple bila kita ingin berbagi aplikasi, karena ada kalanya sebuah aplikasi membutuhkan beberapa class. Bila kita menggunakan Eclipse, maka hal tersebut dapat dikerjakan dengan mudah. Disini, akan saya jelaskan bagaimana cara membuat file runnable .jar dari command line. (1) Bila itu hanya melibatkan satu class, maka cukup ketik. Misal nama file class-nya adalah Demo.class. Maka cara membuat file Demo.jar adalah sbb: jar -cfe Demo.jar Demo Demo.class * Demo.jar merupakan target output file name jar-nya. Kita bisa   menggunakan nama lain selain Demo dalam kasus ini. * Demo adalah tempat method main() berada. * Demo.class adalah class yang diperlukan oleh method main(). (2) Bila sudah melibatkan beberapa class. Sebagai contoh method main()-nya ada di BoxDemo, yang melibatkan dua buah class yaitu BoxDemo.class dan Box.class. Maka kita bisa membuat runnable jar-nya sebagai berikut. Misal ki...

Gnome

Ini adalah desktop environment yang saya suka sejak versi 2.x atau dikenal dengan Gnome Classic. Dan sekarang dengan munculnya Gnome 3.x atau biasa disebut dengan Gnome Shell sudah mengalami perkembangan yang amat sangat bagus. Dan sekarang saya sudah menemukan konfigurasi Gnome Shell yang keren, yaitu dengan menggunakan Gnome Extension Dash to Dock. Jadi secara default, dash ini hanya akan muncul bila kita tekan tombol super. Akan tetapi dengan extension tadi, maka ia bisa kita letakkan di bottom dan akan auto hide secara inteligence bila ada window yang menimpanya.   Selain itu, kita juga menjadi sangat mudah dalam mengelola aplikasinya, karena bisa langsung klik tombol "Show Application" dari dash ini, tanpa harus menekan tombol super terlebih dahulu. Selain sebagai short cut ke aplikasi, dash to dock juga sekaligus berfungsi sebagai window list. Dan dengan demikian, tampilannya menjadi simple dan mirip sekali dengan Apple Mac OS X. Alangkah baiknya bisa extension ini ...