Dari sisi konsep, Open Office adalah jawaban Sun Microsystem terhadap dominasi Office suite besutan Microsoft tersebut. Ia sejak awal dirilis dibuat untuk platform: Windows, Mac dan Linux. Mengingat saya menggunakan OS Linux, maka saya perlu beradaptasi dengan Open Office dimana sejak awal mendukung format data ODF (Open Document Format) secara native. Sementara Microsoft Office tidak mengimplementasikan ODF secara native, akan tetapi menggunakan OOXML sebagai format dokumen native-nya.
Selama saya menggunakan Open Office maupun Libre Office, saya kadang-kadang mengalami kendala dalam hal format yang kurang kompatibel dengan rekan-rekan saya yang kebanyakan masih menggunakan aplikasi Microsoft Office. Dan ternyata Libre Office itu menggunakan konsep konversi saat membuka dan menyimpan dokumen yang menggunakan format OOXML, jadi dalam proses konversi ini-lah kadang-kadang kita menemukan ada perubahan layout atau format yang berubah saat kita menggunakan Microsoft Office. Lalu muncullah Google Docs yang mengusung konsep cloud computing untuk Office Suite. Dimana aplikasi ini mengedepankan kolaborator di awan, cukup menggunakan browser untuk menggunakannya dan tidak perlu instal aplikasinya di komputer kita. Nah konsep ini kemudian diadopsi Microsoft.
Konsep cloud computing tersebut, rupanya diadopsi juga oleh Collabora Office yang dikembangkan berbasis Libre Office. Sehingga bila ingin menggunakan Libre Office yang berbasis cloud computing, bisa menggunakan Collabora Office.
Format Dokumen
Perbedaan antara Microsoft Office dan Libre Office terletak pada format yang didukung secara native. Microsoft menggunakan OOXML secara native, sementara Libre Office menggunakan ODF (Open Document Format). Sementara implementasi format dokumen OOXML di Libre Office hanya berupa dukungan konversi, sehingga dalam hal konversi kadang ada perubahan. Demikian juga Microsoft menerapkan hal yang serupa dalam rangka mendukung ODF.
Oleh karena itu, kadang saya menerima dokumen dari kolega (yang nota bene menggunakan aplikasi Microsoft Office) perlu sedikit koreksi, karena ada layout atau hal lain yang bergeser.
Microsoft berdalih bahwa OOXML itu digunakan untuk menjaga kompatibilitas dengan format yang sebelumnya, karena bila tidak diakomodir, maka dokumen yang tersimpan dengan format lama tidak akan bisa diakses.
Hal semacam itu pernah saya juga alami (meski pada kasus yang berbeda aplikasi), dimana saya sekitar tahun 2013 dipasrahi tim penerjemah Al-Qur’an untuk bergabung membantu dari sisi editing. Lalu dari tim yang lama, mereka memproses layout-nya dengan aplikasi Page Maker 5 (PM 5), dimana saat itu ia sudah menjadi aplikasi yang sudah tidak didukung lagi oleh Adobe (End of Life). Meski pun ini kasus berbeda bukan file office, akan tetapi pengalaman ini mirip. Karena PM5 hanya didukung sampai Windows XP (?). Sementara PM5 sendiri sudah End Of Life (EOL).
Akan tetapi di tahun 2025 kemarin, alhamdulillah Al-Qur’an nya sendiri secara resmi sudah dicetak.
Dengan perbedaan format inilah yang membuat kedua office suite tersebut berjalan sendiri-sendiri pada jalur mereka masing-masing. MS Office menggunakan OOXML, sementara Libre Office menggunakan ODF.
Jalan Tengah
Dari dua kutub tersebut kita bisa menilai bahwa dari publik yang concern tentang privacy, maka Libre Office merupakan pilihan yang masuk akal. Karena mengedepankan format dokumen ODF dan memenuhi ketentuan ISO dan aplikasinya dikembangkan dengan model kode sumber terbuka (open source). Sehingga publik bisa melakukan audit berkenaan dengan privacy.
Sementara Microsoft Office dikembangkan dengan cara kode sumber tertutup (propietary), yang mengimplementasikan OOXML secara native di produk Office-nya, dan secara de facto Microsoft menjadi pihak penentu arah pengembangan format OOXML nantinya.. Sehingga penggunanya mau tidak mau dipaksa untuk mengikuti apa maunya Microsoft. Kondisi inilah yang disebut kondisi dimana pengguna tidak berdaulat atas dokumen mereka sendiri.
Ditengah pertikaian diantara keduanya, maka di tahun 2009 muncullah Only Office yang secara native menggunakan format dokumen OOXML dan dikembangkan modelnya dengan kode sumber terbuka (open source). Perlu diketahui juga bahwa format OOXML itu juga comply dengan ISO (yang berbeda tentunya dengan ISO untuk ODF), meski prosesnya ada kontroversi.
Only Office melakukan pendekatan yang meoderat menurut saya, yaitu bahwa format dokumen native nya menggunakan OOXML, dengan tujuan agar dokumen yang dibuat dengan aplikasi Microsoft Office bisa digunakan dengan baik di Only Office. Mengingat secara de facto, format dokumen tersebut banyak diadopsi kalangan korporat yang sudah sejak lama merasa nyaman dengan aplikasi Microsoft Office.
Sementara itu, user interface-nya dibuat hampir mirip dengan Microsoft Office. Sehingga pengguna baru, akan merasa seperti di rumah sendiri.
Sementara dari sudut pandang komunitas open source yang concern tentang privacy akan merasa aman juga, karena Only Office bisa diaudit bila memang ada kode yang bertentangan dengan privacy.
Jadi menurut saya, Only Office adalah jalan tengah yang bagus. Setelah cukup lama saya menggunakan Libre Office dan sekarang ke Only Office, it seems like, that I am coming back home to Microsoft Office.
Comments