Skip to main content

Mengembalikan Ubuntu ke Tradisi Unix


Distro Ubuntu ini bertujuan agar mempermudah penggunanya dalam menangani komputernya. Antara lain adalah dengan menghilangkan password root. Dan kemudian membuat satu account yang bisa digunakan sebagai 'root'. Akan tetapi dibalik kemudahan ini tersimpan potensi serangan peretas.

Mengapa demikian?
Dalam penggunaan sehari-hari, kita biasanya login sebagai normal user. Akan tetapi bila normal user tersebut memiliki otoritas sama dengan root, maka begitu peretas bisa mengambil alih password kita tersebut. Maka secara otomatis, peretas sudah bisa mengambil alih komputer kita.

Untuk menghindari hal tersebut, alangkah baiknya kita memberikan perbedaan otoritas yang jelas antara root dan normal user. Untuk menjadikannya seperti ini, maka ada beberapa hal yang perlu kita lakukan pada distro Ubuntu ini agar bisa kembali ke tradisi Unix yang sebenarnya.

Secara default, Ubuntu mendisable password root. Dan normal user yang dibuat sewaktu instalasi, akan dimasukkan ke dalam grup adm (administrator) dan sudo (super user do).

(1)
Berikut adalah cara untuk meng-enable password root:
$ sudo passwd root
Nanti kita akan ditanyakan password apa yang akan digunakan sebagai user root.
Dengan demikian, kita sudah bisa login dengan root.

(2)
Kemudian, untuk menghilangkan otoritas normal user tadi (misalnya: novi), perlu kita hilangkan dari grup adm dan sudo. Begini caranya:
Kita login sebagai root terlebih dahulu, kemudian ketik:
# gpasswd -d novi adm
# gpasswd -d novi sudo

(3)
Untuk memastikan bahwa user name novi sudah bukan termasuk grup adm dan sudo, kita ketikkan:
# id -Gn novi
Maka disana tidak akan terlihat lagi adm dan sudo.

Dengan demikian, user name novi sudah menjadi normal user. Adapun otoritas administrasi hanya diberikan ke root saja. Demikian, semoga bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

Auto-Fill-Mode di Emacs

  Berikut adalah cara agar auto-fill-mode bisa aktif secara global di emacs. Yaitu tambahkan dua kode berikut pada file ~/.emacs (add-hook 'change-log-mode-hook 'turn-on-auto-fill) (setq-default auto-fill-function 'do-auto-fill) Demikian. 

Visual Studio Code Untuk Belajar Python, C, C++ dan C#

Setelah mencari IDE (Integrated Development Environment) apa yang terbaik untuk mendevelop Python, Akhirnya saya mendapatkan pencerahan setelah menemukan Visual Studio Code . Rupanya ada perbedaan antara IDE dengan Editor. Bila Editor adalah semacam text editor saja, seperti notepad++, Emacs, vim, maka IDE adalah editor + compiler. Oleh karena itu, maka IDE biasanya lebih berat dalam hal performance. Karena memang membundle editor + compilernya. Secara default, Visual Studio Code didesain bagi pengembang aplikasi web, yang meliputi html, css, java script, type script. Jadi untuk mendevelop bahasa pemrograman seperti Python, perlu sedikit cara agar bisa digunakan juga sebagai compiler. Setting Python Tekan F1, lalu ketik Task: Configure Taks Runner. Kemudian gantilah "command" : "python.sh", "isShellCommand" : true, "showOutput" : "always", "args" : ["{$file}"] Itu artinya bila kita menjalankan task runner (run ...

Java Tutorial Getting Started

Baru saja menyelesaikan Getting Started, meliputi: Your First Cup of Java The Java Phenomenon The “Hello World” Application The “Hello World” Applet Common Problem (and Their Solution) Yang dipelajari: Java 2SE version 1.4.2 Result: Good job. There is no error found!