Skip to main content

No Dual OS Anymore

Setelah sekian lama menggunakan sistem dual OS, maka hari ini saya putuskan untuk menggunakan Ubuntu secara full tanpa Windows. Thanks ternyata proses migrasi itu bisa berjalan dengan lancar. Perasaan yang tadinya merasa takut untuk berubah ternyata saya bisa membuktikan bahwa saya bisa berubah.

Muncul perasaan merdeka dalam diri, karena sudah tidak ada ketergantungan lagi. Dan yang lebih penting adalah apa yang saya gunakan sekarang itu legal dan halal. Insya Allah membawa berkah.

Aplikasi Favorit saya di Ubuntu, untuk browsing tentu saja Firefox, lalu Thunderbird untuk keperluan berkirim e-mail. Sedangkan urusan musik saya serahkan kepada Banshee. Tak lupa saya install Cairo Clock, yang memperindah tampilan desktop gnome saya. Untuk keperluan tulis menulis tentu saya gunakan Open Office.

Thanks for the Open Source community. Start from now onwards, I will keep on using open source. Dan hari ini adalah pembuktian bahwa saya bisa hidup dengan Linux.

Good Deed!

Comments

Popular posts from this blog

Auto-Fill-Mode di Emacs

  Berikut adalah cara agar auto-fill-mode bisa aktif secara global di emacs. Yaitu tambahkan dua kode berikut pada file ~/.emacs (add-hook 'change-log-mode-hook 'turn-on-auto-fill) (setq-default auto-fill-function 'do-auto-fill) Demikian. 

Anomali di Web Whatsapp

  Bagi pengguna Linux OS, saat menggunakan aplikasi Whatsapp pada umumnya akan menggunakan aplikasi web whatsapp. Berbeda dengan Windows yang disediakan aplikasi whatsapp desktop. Selama ini, saya tidak menemui kendala. Akan tetapi akhir-akhir ini muncul anomali, dimana saya tidak bisa membuka Group Info dari sebuah grup whatsapp.  Dari berbagai sumber ada yang menyarankan untuk membuang cache, cookies dari browser. Akan tetapi beragam jenis solusi yang ditawarkan, akhirnya untuk kasus tersebut cukup sederhana solusinya. Yaitu saat melakukan login pastikan window browser tidak terbuka secara full screen, cukup buka window browsernya setengah layar, maka anomali tersebut hilang dengan sendirinya.

Visual Studio Code Untuk Belajar Python, C, C++ dan C#

Setelah mencari IDE (Integrated Development Environment) apa yang terbaik untuk mendevelop Python, Akhirnya saya mendapatkan pencerahan setelah menemukan Visual Studio Code . Rupanya ada perbedaan antara IDE dengan Editor. Bila Editor adalah semacam text editor saja, seperti notepad++, Emacs, vim, maka IDE adalah editor + compiler. Oleh karena itu, maka IDE biasanya lebih berat dalam hal performance. Karena memang membundle editor + compilernya. Secara default, Visual Studio Code didesain bagi pengembang aplikasi web, yang meliputi html, css, java script, type script. Jadi untuk mendevelop bahasa pemrograman seperti Python, perlu sedikit cara agar bisa digunakan juga sebagai compiler. Setting Python Tekan F1, lalu ketik Task: Configure Taks Runner. Kemudian gantilah "command" : "python.sh", "isShellCommand" : true, "showOutput" : "always", "args" : ["{$file}"] Itu artinya bila kita menjalankan task runner (run ...