Wednesday, July 01, 2015

Menemukan Yang Terbaik

Setelah beberapa kali mencoba beberapa distro yang berbasiskan deb
seperti Debian, Ubuntu, termasuk juga yang berbasiskan rpm, seperti
Open SUSE, Fedora. Akhirnya saya menemukan distro yang terbaik. Yaitu:
Slackware, yang dikenal sebagai distro pertama dan yang masih bertahan
sampai sekarang.

Ada beberapa alasan mengapa saya menjadikan Slackware sebagai distro
yang terbaik, diantaranya:

(1) Installer Slackware disimpan dalam bentuk paket tarbal + file text
yang menjelaskan mengenai fungsi paket tersebut. Termasuk, readme
filenya. Semua dokumentasinya ditulis dalam format plain text. Jadi
sebelum Anda melakukan instalasi, Anda sudah bisa membaca
dokumentasinya secara mudah. Karena yang Anda perlukan hanyalah text
editor seperti notepad. 

(2) Informasi tentang Slackware Linux secara sekilas dan penjelasan
langkah demi langkah proses instalasinya, termasuk bagaimana cara
merecovery password root (bila Anda lupa), semuanya dijelaskan dengan
gamblang dalam file Slackware-HOWTO.

(3) Begitu Anda selesai melakukan instalasi, maka hal pertama yang
perlu Anda lakukan adalah membaca arahan dari si pembuat Slackware,
yaitu Patrick Volkerding melalui e-mail yang dikirimkan kepada Anda
sewaktu pertama kali Anda login sebagai root. Cukup Anda ketik #
mail. Disana Anda akan dijelaskan bagaimana mengelola Slackware Linux
Anda dengan cara yang benar ("Slackware way").

(4) Slackware tidak mengenal tools installer yang menangani dependensi
paket. Hal ini sengaja dilakukan agar sistem Anda tidak berantakan
dengan adanya paket-paket yang tidak perlu. Karena bila sistem Anda
berantakan, hal itu akan mempengaruhi performa sistem secara
keseluruhan.

(5) Ada jaminan, bila Anda mengikuti cara Slackware yang benar, maka
Anda akan mengerti Linux. Karena distro ini berpegang teguh pada
tradisi Unix yang menempatkan text command prompt sebagai pusat
kendali semua proses administrasi. Memang perlu waktu untuk belajar
semua tools yang ada. Akan tetapi usaha Anda dalam mempelajarinya akan memberikan imbalan yang setimpal, dan menjadikan Anda sebagai super user.

Adapun hal lain yang kadang membuat sebagian pengguna Slackware merasa kurang sabar, adalah menunggu release terbaru. Mengingat tidak ada jadwal pasti kapan release terbaru akan dirilis. Hal ini berbeda
dengan distro lain seperti Open SUSE yang memiliki release cycle
setiap 8 bulan, atau Fedora dan Ubuntu yang setiap 6 bulan, bisa
dipastikan ada release terbaru. Akan tetapi informasi versi alpha,
beta dan release candidate pada next release Slackware selalu
diinformasikan pada ChangeLogs pada website resminya.

Hal yang menjadi pertimbangan utama dalam merilis versi terbaru adalah 
kestabilan sistem secara keseluruhan. Begitu dirilis, distro ini
didesain akan memiliki support kernel yang long term. Jadi begitu Anda
menginstalnya, ini akan menjadi jaminan bahwa sistem Anda akan tetap
up to date secara long term.

Bila Anda sudah bisa mengelola Slackware Linux Anda dengan cara
Slackware (Slackware way); maka bisa dipastikan bahwa Anda akan betah
menggunakannya. Karena stabil dan easy to use.

Hal itu saya buktikan sewaktu saya menggunakan Fedora 22, dimana
aplikasi LibreOffice Calc yang saya buat dan saya simpan sebagai
file.xlxs dan kemudian saya buka lagi, ternyata tidak dapat dibuka
secara normal. Kondisinya seperti masih loading file, akan tetapi
akhirnya tidak bisa dibuka.

Selain itu, saya juga menemukan pada Open SUSE 13.2 yang tidak bisa
mencetak dokumen dengan orientasi landscape. Adapun di Debian 8.1
tidak dapat wake up dari sleep secara normal, akan tetapi malah blank
screen.

Itu ada beberapa bug yang saya temukan pada ketiga distro tersebut,
yang menurut saya cukup mengganggu dalam berkomputasi.

Dari perjalanan saya tersebut, maka saya sekarang sudah menemukan
distro Linux terbaik, yaitu Slackware. Semoga tulisan ini bisa
menginspirasi Anda yang belum pernah menggunakan Slackware sama
sekali. Karena begitu Anda mengelola Linux Anda dengan menggunakan
cara "Slackware way", maka Anda akan menemukan easy to use-nya.

Demikian. Semoga bisa menginspirasi.

Wassalam,

Monday, June 29, 2015

Okular

Untuk menghindari ketergantungan dengan paket adobe reader yang selama ini menjadi andalan sebagai pdf reader, maka kini saatnya saya berganti ke aplikasi alternatif sejenis. Alasan lain adalah masalah inovasi, karena bagi pengguna Linux, adobe reader berhenti pada versi 9.5.5. Jadi paket adobe reader bagi pengguna Linux berhenti inovasinya pada versi 9.5.5 ini.
Di dunia open source ditawarkan beragam pdf reader, mulai dari xpdf, mupdf, evince sampai okular. Bila melihat xpdf dan mupdf, kedua pdf reader ini sangat sederhana. Dan bila menilik kepada kelengkapan fitur, maka evince dan okular cukup menjanjikan. Akan tetapi dari segi performa dan tajamnya tampilan, maka okular terlihat lebih baik ketimbang evince.
Meski fungsi search yang menjadi alasan utama saya untuk tetap bergantung pada adobe reader tidak (belum) saya temukan di okular. Akan tetapi untuk saat ini, okular cukup menjanjikan. Karena terasa begitu ringan dan lebih responsif daripada adobe reader.
Adapun syarat agar okular bisa berjalan dengan baik, ada 3 paket lain yang perlu diinstal, yaitu: kdelibs, kactivities dan oxygen-icons. Yang ketiganya saya peroleh pada paket kde.

Happy okular !

Thursday, June 25, 2015

Browser War

Selama ini, ada cerita brower war yang pernah terjadi selama ini.
Diawali dengan Netscape yang menjadi reinkarnasi first browser dari
Mozaic. Yang pada awalnya mendominasi dunia browser, kemudian IE
datang belakangan untuk melawan dominasi Netscape. Dan akhirnya
Netscape mati (suri) setalah kalah dari IE, karena IE
menggunakan strategi browser IE yang dibundle dengan OS Windows.

Kemudian fase ke-2 adalah dengan dihidupkannya lagi Netscape dalam
bentuk lain, yaitu Firefox dengan model pengembangan open source. Dan
akhirnya terjadilah browser war yang ke-2, yaitu antara IE vs Firefox.
Firefox sempat menguasai pangsa pasar sampai 25% secara global, akan
tetapi kemudian sejak dikeluarnya Chrome oleh Google, mengalami
penurunan jumlah penggunanya yang sampai sekarang hanya berkisar
antara 20% saja. Browser war fase sekarang meliputi Chrome, Firefox
dan IE. Dengan inovasi yang cepat pada Chrome dan Firefox; adapun IE
mengalami stagnan dalam hal inovasi karena kelamaan update.

Akan tetapi menjelang dirilisnya Windows 10, Microsoft tidak tinggal
diam, mereka menyiapkan new browser yang di crete from scratch, yaitu
MS Edge, yang mengusung bahwa web adalah palet Anda. Browser ini
digadang-gadang akan membuat website sebagai palet tempat kita
menuangkan segala ide disana, dan itu dimungkinkan dengan teknologi
yang akan disematkan pada MS Edge ini. Adapun kecepatannya diberitakan
mengalahkan Chrome dan Firefox.

Menarik untuk disimak bagaimana kelanjutan dari browser war di era
sekarang ini. Apakah dengan keluarnya MS Edge akan mengubah peta
persaingan browser yang ada sekarang?

So please wait...

Fedora 22

It is about another Linux distro. Not a fashion thing.

Sebenarnya saya sudah berkenalan dengan Fedora yang pada waktu itu
masih memakai nama Fedora Core versi 4. Akan tetapi sayang tidak bisa
memutas CD audio koleksi saya. Akhirnya saya move ke Ubuntu, yang bisa
memutar CD audio, once the installation is complete.

Sewaktu menggunakan Fedora 22, ada impresi keren yang muncul,
diantaranya dengan gnome 3.16 dan adanya extention window list
sehingga, window yang aktif muncul dibagian bottom bar. Sementara
notification pada gnome 3.16 ditata ulang penempatannya dan menjadi
satu dengan kalender yang ada di bagian top bar. Mengingat bila tidak
ada window list, maka seakan-akan kita kehilangan kontrol atas window
yang sedang aktif. Dan window list mempermudah kita dalam
berpindah-pindah dari satu window ke window yang lain. Jadi lebih
manageable.

Satu hal mengapa saya selalu mencoba distro lain selain Slackware
adalah karena desktop environment gnome yang di drop di Slackware
sejak versi 12. Dan pada versi 3.16 ini, gnome mengalami banyak
perubahan yang keren. Dan pada Fedora 22, saya merasakan performa
system yang cukup baik, ketimbang performa Open SUSE 13.2 dengan
gnome-nya. Ini kemungkinan besar karena Fedora tidak mengikutsertakan
gcc dan development tool pada instalasi workstation-nya. Jadi lebih
ringan.

Untuk keperluan file archiever, saya merasa perlu untuk menambahkan
p7sip dan terlihat baik dengan bisa terintegrasi dengan file archiver
yang menggunakan mode GUI. Akan tetapi rupanya saat kompress file ke
dalam format 7z tidak bisa di password. Akan tetapi hal itu bisa
dilakukan bila kita menggunakan mode text dengan command 7za (beda
dengan di Slackware yang menggunakan command 7z).

Hal lain berkenaan dengan office suite, secara default Fedora sudah
membundle Libre Office write, spreadsheet dan presentation dalam paket
instalasi standart-nya. Mungkin ini juga yang membuatnya lebih ringan,
karena tidak memaketkan Base, Math dan Draw dari Libre Office
Suite. Mengingat aplikasi Base itu semacam MS Acces di MS Office
suite, yang tentu saja masuk kategori aplikasi yang berat, karena
berkaitan dengan pengolahan data base.

Untuk keperluan pdf reader tetap adobe reader lebih baik ketimbang
Evince yang menjadi bawaan default Fedora. Jadi ia menjadi paket yang
saya tambahkan juga. Untuk menambah kaya font, saya tambahkan font
Terminus.ttf untuk shell font, dan juga webcorefont dan
webcorefont-vista yang saya instal dari paket rpm-nya. Untuk keperluan
multimedia tetap saya percayakan VLC media player, karena ada
equilazer dan juga video codec-nya berjalan dengan baik.

Adapun untuk tambahan paket non-standart bisa diperoleh dari
rpmfusion.org; jadi ini mirip dengan slackbuilds.org kalau di
Slackware. Jadi vlc bisa diinstal dengan menambahkan repository rpm
fusion ini terlebih dahulu. Baru bisa diinstall dengan cara # dnf
install vlc.

Untuk setfont console pada virtual console, untuk sementara saya akali
dengan menempatkan perintah setfont pada file .bash_profile. Karena
pada Fedora 22 ini, belum ketemu bagaimana cara melakukan setfont
secara sistem. Maklum Fedora menggunakan systemd (bukan init) seperti
Slackware. Dan yang perlu dicatat adalah lokasi console fontnya
berbeda, yaitu ada di /usr/lib/kbd/consolefonts.

Pada release Fedora 22 kali ini, saya tidak menemukan bug seperti
Debian 7 atau 8.1 yaitu blank screen setelah wake up dari posisi
sleep.

Bisa dikatakan bahwa Fedora ini adalah distro yang cocok juga bagi
mereka yang masih pemula, selain Open SUSE tentu saja. Beda keduanya
adalah bahwa Fedora lebih sering mengupdate kernel-nya daripada Open
SUSE. Adapun keduanya sama-sama distro yang menggunakan rpm based,
akan tetapi pada implementasi paket managementnya berbeda. Bila di
Open SUSE, pada Fedora menggunakan dnf (sebagai pengganti yum).

Friday, June 12, 2015

Masalah Print Landscape di OpenSUSE

Ada keanehan yang saya temui sewaktu menggunakan Open SUSE, yaitu bahwa sewaktu mencetak dokumen dengan orientasi landscape tetap saja dicetak secara potrait.
Dan inilah yang menjadi satu ganjalan di Open SUSE. Semoga problem ini bisa diselesaikan pada release selanjutnya. Dengan tampilan GUI yang menawan, tentu fitur ini menjadi semacam bug yang mengganjal bila tidak segera dibenahi.

Monday, June 08, 2015

Beberapa Catatan Tentang Linux


Tulisan ini lebih merupakan catatan penulis berkenaan dengan Linux. Semoga ada beberapa yang bisa diimprove dan diimplementasikan pada release selanjutnya.


Graphical User Interface

Pada umumnya, end user akan merasakan impresi pertama adalah saat pertama kali melihat performa tampilan GUI-nya. Maklum di abad 21 ini, semuanya sudah dipermudah dengan hanya klak-klik tombol mouse. Adapun pada hakekatnya command prompt itu lebih powerful ketimbang menggunakan aplikasi sejenis dalam mode GUI. Dan konsep ini selalu melekat pada orang-orang yang memang berkecimpung mengelola server. Maklum saja, karena server tidak memerlukan tampilan GUI sama sekali pada hakekatnya. Karena alasan performa server terbebani dengan tampilan GUI.

Bila dalam ranah server, saya setuju dengan tampilan text based dalam mengelola server tersebut. Akan tetapi pada ranah desktop, maka yang menjadi point atraktif sebuah OS adalah tampilan GUI yang memukau sebening kristral. Bila Anda pernah membandingkan tampilan GUI Linux, Windows dan Mac OS X, maka yang paling bening menurut saya adalah Mac OS X, kemudian Windows baru yang terakhir Linux. 


Bila melihat Mac OS X, ia adalah turunan Unix juga, sama dengan Linux. Oleh karena itu saya percaya bahwa pada tahun-tahun mendatang, tampilan GUI Linux bisa seatraktif Mac OS X. 



Paket Managemen

Selanjutnya adalah mengenai paket management, ada beragam aliran paket managemen di Linux, secara garis besar ada 2 yang terkenal, yaitu RPM dan Debian. Selain itu ada juga yang lain, seperti Slackware yang masih menggunakan paket file tarbal. Akan tetapi kenyataan ini bisa dimaklumi, karena adanya kebebasan dalam dunia Linux yang open source, jadi Linux membuka pintu seluas-luasnya bagi developer untuk membuat paket managemen sendiri, atau akan mengikuti patron yang sudah ada. Akan tetapi ada satu format yang bisa diterima oleh semua distro, yaitu binary file, yang biasanya dikompres dalam format tar.gz atau tar.bz2. Dan format seperti itu bisa diinstal ke semua distro yang ada. Dan ini adalah common format untuk Linux. Akan tetapi untuk alasan performa, biasanya distro yang merupakan turunan Debian seperti Ubuntu, akan menyediakan paket standard untuk Ubuntu pada aplikasi tersebut. Dengan dalih, lebih secure dan lebih terintegrasi dengan distro tersebut. 

Jadi mau tidak mau, kita harus belajar beberapa jenis paket management tersebut agar bisa memahami Linux secara komprehensif. Termasuk paket yang masih mengunakan tarbal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa paket managemen di Linux itu ada beberapa jenis standart, tidak hanya satu seperti di Windows atau Mac OS X.


Konsekuensi dari ada beberapa jenis paket management, maka pengelolaannya juga bermacam-macam. Bila kita menggukanan paket RPM kita harus menggunakan tools rpm. Kalau Debian, kita bisa menggunakan tools apt-get. Bahkan sesama paket RPM, misalnya antara OpenSUSE dan Fedora memiliki tool yang berbeda. Bila di OpenSUSE selain tools rpm, kita bisa menggunakan tools zypper, sedangkan di Fedora kita bisa menggunakan tools rpm atau yum. 


Adapun kalau kita menggunakan paket binary file, maka pengelolaannya sama, dan itu berlaku common di berbagai distro. Sebagai contoh paket firefox yang bentuk binarynya adalah firefox.tar.bz2, cara menginstallnya adalah # tar xvf firefox.tar.bz2, maka akan diekstrak-lah ke subfolder /firefox dari tempat instalasi tersebut dilakukan. Dan cara menjalankannya tinggal cari file executablenya dari folder /firefox. 


Jadi bisa disimpulkan bahwa managemen paket di Linux ada beberapa aliran, antara lain RPM, Debian, tarbal dan binary file. Jadi ke-4 jenis paket managemen ini perlu Anda pelajari, bila Anda ingin expert. Disinilah letak belajar yang agak berat bagi mereka yang hanya sekedar end user. Akan tetapi bagi Anda yang mau belajar, maka akan ada imbalan yang pantas untuk Anda setelah mempelajarinya. Anda akan menjadi seorang super user bahkan expert di Linux.



Kolaborasi

“Kekurangan” lain Linux adalah masalah marketing. Karena sebagian disto Linux itu free, maka pada umumnya para developer tidak membutuhkan marketing yang jor-joran dikarenakan tidak ada budget untuk itu. Marketingnya hanya dilakukan secara online di website masing-masing distro. Akan tetapi khusus kernel Linux-nya biasanya tambahan fitur-fiturnya dibahas dalam forum-forum kernel Linux. Seperti kernel versi 4.x yang memiliki fitur tidak perlu restart system setelah upgrade kernelnya. Beda dengan kernel versi sebelumnya yang selalu memerlukan restart system. Ini adalah khabar baik untuk penggunaan Linux pada ranah server. Sebenarnya fitur itu sudah ada pada Linux versi komersial seperti Red Hat dan Suse, karena biasanya server mengerjakan tugas-tugas yang kritikal, maka fitur itu wajib ada pada kernel yang digunakan.

Untuk distro yang dikomersialkan, fitur itu menjadi nilai jual daripada OS yang lain. Karena menurut pengalaman saya sewaktu bekerja di perusahaan yang menggunakan server Windows NT,  beberapa kali IT manager menginformasikan akan melakukan restart server. Bila menggunakan Linux, tentu hal itu tidak perlu dilakukan. Inilah nilai jual kernel Linux ketimbang kernel yang lain.


Untuk menutupi “kelemahan” marketing ini, maka kita sebagai user Linux-lah yang harus aktif mencari informasi dari forum-forum kernel Linux atau forum-forum pada distro yang kita gunakan. Pada forum inilah developer bisa mengadopsi feedback dari end user untuk perbaikan kernel atau distro kedepannya agar lebih baik lagi. Inilah yang disebut dengan kolaborasi diantara pengguna Linux. 


Dari forum-forum itulah juga yang mendorong patch cepat dilakukan oleh developer. Jadi release patch kernel Linux bisa dilakukan dengan cepat. Misalnya dari versi 3.10.17 ke versi 3.10.18 bisa dikerjakan mingguan. Coba bandingkan dengan OS lain yang memakan waktu tahunan.



Simple

Oleh karena peruntukkan Linux itu bisa digunakan untuk server atau desktop, maka ada distro yang membuat kebijaksanaan untuk membedakan ISO instalernya seperti yang diberlakukan pada Fedora, Red Hat, Suse. Jadi ISO installernya ada yang untuk desktop, server atau cloud. Untuk yang desktop saja juga dibedakan lagi berdasarkan desktop environmentnya, seperti KDE, Gnome, XFCE, LXDE. Ini berlaku khususnya pada ISO installer desktop.

Walaupun begitu, ada juga yang tidak mengikuti kebijaksanaan itu, seperti Slackware. Yang dibedakan hanyalah arsitekturnya saja, yaitu 32 bit atau 64 bit. Inilah bentuk kesederhanaan Slackware. Semuanya bisa dipoles sesuai keinginan Anda. Bila digunakan untuk server, tidak perlu install GUI-nya. Sebaliknya bila digunakan untuk desktop, GUI-nya perlu diinstal. Dengan demikian, maka mendownload ISO Slackware itu mudah tinggal pilih arsitektur mana yang dipilih. Jadi bagi pengguna awal hal itu tidak membingungkan.


Kalau kita ingin menggunakan Fedora, maka mau tidak mau kita mesti memahami apa bedanya KDE dan Gnome, atau bahkan XFCE dari sisi end user. Sebelum kita mendownload ISO installernya. Oleh karenanya maka sebenarnya, disini Slackware lebih mudah bagi pemula daripada distro yang lain. Inilah kelebihan Slackware: Simple.



Referensi

Sebenarnya manual yang paling baik adalah dokumentasi dari si pembuat software itu sendiri. Akan tetapi bagi pemula hal itu tentu akan membingungkan. Karena ada banyak hal yang dibahas pada manual tersebut. Misalnya manual listing file (man ls), maka ada banyak opsi yang ditampilkan. Bagi pemula itu membingungkan. Akan tetapi sebaliknya hal itu usefull bagi mereka yang sudah expert. 

Oleh karena itu maka saya  merekomendasikan bagi pemula untuk belajar dari buku The Linux Command Line, karya William Shotts yang bisa di download e-book-nya secara free di linuxcommand.org. Buku tersebut merupakan buku yang Linux centris. Dan membahas Linux command dalam mode text, jadi bisa digunakan pada semua distro Linux. Dengan membaca buku itu, akan menjadi landasan yang kuat untuk Anda dalam melangkah lebih jauh dalam mengeksplorasi Linux. Selamat membaca. 


Selamat datang di dunia open source dan open knowledge dimana tidak ada satupun hal yang disembunyikan.

Sunday, April 12, 2015

Document Exchange

Ada hal yang perlu dicermati apabila kita biasa saling bertukar dokumen dengan kolega. Sementara teman kita masih menggunakan Windows, sedangkan kita sudah menggunakan Linux. Maka aplikasi yang paling ramah untuk keduanya adalah Libre Office. Adapun format file yang bisa kita gunakan adalah Open Document Format. Akan tetapi format ODF ini belumlah tersosialisasi dengan baik kepada teman-teman saya. Oleh karena itu, maka sayalah yang mengalah dengan mengikuti format mereka, yaitu format Open Office XML. Yaitu format dengan extention file .docx, .xlsx dan .pptx.

Untunglah pada versi yang terbaru, Libre Office selalu melakukan pembaharuan dalam hal konversi ODF ke Open Office XML dan sebaliknya. Pernah pada versi tertentu, mungkin versi Libre Office 3.6, saya mengirimkan file spreadsheet.ods dengan formula di dalamnya. Akan tetapi begitu dibuka oleh kolega saya dengan Windows dan aplikasi MS Office, formulanya menjadi hilang. Yang tampil disana hanya datanya saja.

Akan tetapi bila saya kirimkan dalam format .xlsx buatan Libre Office 3.6 tadi, maka tidak dapat dibuka dengan baik oleh MS Office. Oleh karena itu, jalan tengahnya adalah disimpan dalam format .xls.

Seiring dengan pengembangan Libre Office yang selalu diperbaiki, maka untuk versi 4.4 sudah tidak saya temukan lagi persoalan tersebut. Akan tetapi memang sayalah yang harus mengalah untuk mengikuti format Open Office XML. Bukan ODF. Padahal format dokumen office yang comply dengan ISO adalah ODF.

Terima kasih kepada pengembang Libre Office yang sudah memungkinkan dokumen exchange tanpa ada permasalahan lagi pada versi 4.4. Karena hal itulah maka dokumen exchange antara saya sebagai pengguna Linux dengan teman-teman saya yang kebanyakan masih menggunakan Windows bisa dilakukan tanpa permasalahan berarti lagi.


Good deed!

Wednesday, April 01, 2015

Text Wrapping

Setelah lama dicari akhirnya ketemu juga, fitur text wrapping di Emacs
itu disebut filling mode. Cara mengaktifkannya adalah dengan cara M-x
auto-fill-mode. Secara default, nilainya adalah 70 kolom. Bila kita
ingin menggantinya, kita bisa menggunakan perintah C-x f 50; maka
nilainya akan diubah ke 50 (bukan 70).

Sekarang bagaimana caranya bila kita menggunakan vi atau vim? yaitu
dengan perintah :set tw=70. Oleh karena itu kita bisa mengubah nilai
70 tersebut dengan angka yang kita inginkan. Cukup mudah ya.

-- adieu --

Kostumisasi Prompt

Ada hal yang menarik dari default prompt di openSUSE, yaitu bahwa bila
kita login sebagai root, maka prompt-nya akan berwarna merah. Beda
dengan bila kita login sebagai normal user.

Rupanya begini cara melakukan setting prompt-nya agar berwarna merah
seperti di open SUSE.

Buat file .bash_profile di home directory (/root) dengan isi berikut:

     PS1="\[\033[1;31m\]\h #\[\033[0m\] "
     export PS1

Setelah itu lakukan pengecekkan dengan cara login lagi. Maka setiap
Anda login sebagai root, prompt berikut akan berwarna merah. Bila
hostname anda adalah linux, maka akan menjadi seperti berikut:

     linux # 

Hal ini penting untuk mengingatkan bahwa kita sedang login sebagai
root. Dan akan terlihat profesional tentu saja.