Thursday, February 04, 2016

Mengeksplorasi Desktop Environment Dengan Open SUSE

Bila Anda termasuk orang yang suka mengeksplorasi desktop environment, maka distro yang enak untuk itu adalah Open SUSE. Karena dengan beberapa jenis desktop environment bisa kita install pada distro ini tanpa mengalami gangguan.
Secara oficial, open SUSE menawarkan desktop environment KDE, Gnome, XFCE, Mate. Akan tetapi kita juga bisa menambahkan desktop environment lain seperti yang ditawarkan distro Solus dengan desktop environment budgie-desktop.
Bila ingin mengeksplorasi desktop environment budgie-desktop, bisa dilakukan dengan cara menginstallnya dari software open suse, tinggal masukkan kata kunci budgie-desktop, maka kita bisa install dengan metode 1-click install.
Begitu juga bila kita ingin mencicipi desktop environtment Cinnamon. Hal itu bisa kita coba dari software.opensuse.org.
Ini adalah kelebihan lain dari Open SUSE yang bisa memberi kesempatan kita untuk mengeksplorasi desktop environment yang lain. Tanpa perlu mendownload file iso dari distro lain.
Selamat bereksplorasi !

Saturday, December 19, 2015

Cara Membuat File Runnable jar Dari Command Line

Jar atau java archieve adalah cara melakukan arsip di pemrograman
Java. Dan ini adalah cara yang simple bila kita ingin berbagi
aplikasi, karena ada kalanya sebuah aplikasi membutuhkan beberapa class.

Bila kita menggunakan Eclipse, maka hal tersebut dapat dikerjakan
dengan mudah. Disini, akan saya jelaskan bagaimana cara membuat file
runnable .jar dari command line.

(1)
Bila itu hanya melibatkan satu class, maka cukup ketik.

Misal nama file class-nya adalah Demo.class. Maka cara membuat file
Demo.jar adalah sbb:

jar -cfe Demo.jar Demo Demo.class

* Demo.jar merupakan target output file name jar-nya. Kita bisa
  menggunakan nama lain selain Demo dalam kasus ini.
* Demo adalah tempat method main() berada.
* Demo.class adalah class yang diperlukan oleh method main().

(2)
Bila sudah melibatkan beberapa class. Sebagai contoh method main()-nya
ada di BoxDemo, yang melibatkan dua buah class yaitu BoxDemo.class dan
Box.class. Maka kita bisa membuat runnable jar-nya sebagai
berikut. Misal kita menginginkan nama outputnya adalah
Result.jar. Cukup ketik:

jar -cfe Result.jar BoxDemo BoxDemo.class Box.class

(3)
Bila sudah melibatkan packages, misal pada kasus ini adalah sbb:
Semua packages yang diperlukan ada di folder p1. Maka kita harus
berada satu level diatas p1. Atau bila kita ketikkan perintah ls (dir
di Windows), maka folder p1 akan muncul.

Sebagai contoh:

Lokasi method main()-nya ada di p1.AccountBalance, dan memerlukan 3
buah class yaitu AccounBalance.class, Account.class dan
Balance.class. Maka cukup kita ketik-kan perintah:

jar -cfe Hasil.jar p1.AccountBalance p1/AccountBalance.class
p1/Account.class p1/Balance.class

* ganti-lah tanda slash ('/') dengan back slash ('\') bila Anda
  menggunakan Windows.

Adapun cara menjalankan aplikasi jar adalah dengan cara:
java -jar Demo.jar

Demikian. Semoga bermanfaat.

Sunday, December 06, 2015

Gnome

Ini adalah desktop environment yang saya suka sejak versi 2.x atau dikenal dengan Gnome Classic. Dan sekarang dengan munculnya Gnome 3.x atau biasa disebut dengan Gnome Shell sudah mengalami perkembangan yang amat sangat bagus. Dan sekarang saya sudah menemukan konfigurasi Gnome Shell yang keren, yaitu dengan menggunakan Gnome Extension Dash to Dock. Jadi secara default, dash ini hanya akan muncul bila kita tekan tombol super. Akan tetapi dengan extension tadi, maka ia bisa kita letakkan di bottom dan akan auto hide secara inteligence bila ada window yang menimpanya.
 
Selain itu, kita juga menjadi sangat mudah dalam mengelola aplikasinya, karena bisa langsung klik tombol "Show Application" dari dash ini, tanpa harus menekan tombol super terlebih dahulu. Selain sebagai short cut ke aplikasi, dash to dock juga sekaligus berfungsi sebagai window list.

Dan dengan demikian, tampilannya menjadi simple dan mirip sekali dengan Apple Mac OS X. Alangkah baiknya bisa extension ini kedepan diadopsi menjadi terintegrasi dengan baik pada Gnome release selanjutnya. Karena fitur ini membuatnya menjadi efisien.

Cukup tambahan satu buah extension dan semuanya menjadi indah. Seolah saya menemukan keindahan Mac OS X di Linux. Cool !



Thursday, November 19, 2015

Jangan Langsung Migrasi ke Slackware

Pesan ini adalah pesan yang bijak bagi Anda yang selama ini dimanjakan oleh OS
seperti Windows dan bermaksud untuk migrasi ke Linux. Mengapa demikian? Karena
bila Anda langsung ke Slackware, bisa saya jamin, bahwa Anda akan frustasi
dibuatnya. Mengingat selama ini Anda selalu dimanjakan oleh Windows, dalam hal
instal software favorit Anda. Karena yang Anda lakukan hanya download file
installernya, kemudian double klik dan selesai sudah.

Dalam hal ini Anda perlu membuat strategi jembatan sebelum menjadi seorang
Linux geek. Yaitu dengan menggunakan distro yang mirip dengan Windows, dalam
hal managemen paketnya. Disini, yang saya rekomendasikan adalah dengan
menggunakan distro Open SUSE. Distro ini, diinstal dalam mode grafis. Dan
paket-paket tambahannya bisa diinstal dalam mode grafis juga.

Dan sudah ada banyak paket aplikasi yang dibuat khusus untuk distro
ini. Selain itu, kita bisa mencarinya dari website software.opensuse.org. Kita
bisa seach aplikasi non standard dari sana. Dan biasanya sudah berupa 1-click
install. Jadi tinggal klik, kemudian sudah terinstal dan dapat berjalan dengan
baik di Open SUSE.

Disini, saya hanya ingin sedikit berbagi bagaimana melakukan instalasi dan
penghapusan paket yang disediakan oleh tool zypper. Tool ini memang alat yang
disiapkan open SUSE dalam menangani paket instalasi.

Sebagai contoh, kita ingin menginstal browser chrome, maka kita tinggal
download paket-nya dari google.com/chrome, pastikan kita mendownload file
dalam format rpm dan arsitekturnya sesuai dengan distro yang kita
pakai. Misalnya kita menggunakan open SUSE 13.2 dan arsitektur 32 bit. Maka
downloadlah paket rpm yang 32 bit.

Setelah di download tinggal kita ketik perintah:

# zypper install google-chrome.rpm

Nanti zypper akan mengecek sistem, dan akan menampilkan paket dependensi agar
chrome ini bisa terinstal dan berjalan dengan baik. Inilah kelebihan zypper
tool yang fungsinya juga menangani masalah dependensi paket.

Dalam kasus ini, akan diinstal 10 paket baru termasuk google-chrome itu
sendiri. Untuk selanjutnya tinggal kita tekan y, untuk meneruskan proses
instalasinya.

Adapun cara untuk menghapus paket google-chrome beserta paket dependensinya,
yang perlu kita ketikkan adalah sbb:

# zypper remove -u google-chrome

Opsi -u berfungsi untuk menghapus paket dependensi dari google-chrome. Bila
opsi ini tidak kita tuliskan, maka ia hanya akan menghapus paket google-chrome
saja, sementara 9 paket dependensinya tidak ikut terhapus.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa tool zypper bagus dalam hal pengelolaan paket
berikut paket dependensinya. Inilah yang membuatnya menjadi ready to use dan
easy to use bagi pemula.

Oleh karena itu, saya menyarankan agar Anda untuk menggunakan distro Open SUSE
terlebih dahulu. Setelah Anda bergaul dengan open SUSE, dan bermaksud untuk
menjadi seorang Linux Geek, maka saran saya adalah migrasi ke
Slackware. Karena memang distro inilah yang masih memegang teguh tradisi
Unix. Dimana semua managemen paket dan administrasinya dikelola melalui linux
command line. Dan ini jauh berbeda dengan Windows, yang memang didesain untuk
mempermudah penggunanya.

Demikian, semoga bermanfaat.

Monday, November 09, 2015

Mengembalikan Ubuntu ke Tradisi Unix


Distro Ubuntu ini bertujuan agar mempermudah penggunanya dalam menangani komputernya. Antara lain adalah dengan menghilangkan password root. Dan kemudian membuat satu account yang bisa digunakan sebagai 'root'. Akan tetapi dibalik kemudahan ini tersimpan potensi serangan peretas.

Mengapa demikian?
Dalam penggunaan sehari-hari, kita biasanya login sebagai normal user. Akan tetapi bila normal user tersebut memiliki otoritas sama dengan root, maka begitu peretas bisa mengambil alih password kita tersebut. Maka secara otomatis, peretas sudah bisa mengambil alih komputer kita.

Untuk menghindari hal tersebut, alangkah baiknya kita memberikan perbedaan otoritas yang jelas antara root dan normal user. Untuk menjadikannya seperti ini, maka ada beberapa hal yang perlu kita lakukan pada distro Ubuntu ini agar bisa kembali ke tradisi Unix yang sebenarnya.

Secara default, Ubuntu mendisable password root. Dan normal user yang dibuat sewaktu instalasi, akan dimasukkan ke dalam grup adm (administrator) dan sudo (super user do).

(1)
Berikut adalah cara untuk meng-enable password root:
$ sudo passwd root
Nanti kita akan ditanyakan password apa yang akan digunakan sebagai user root.
Dengan demikian, kita sudah bisa login dengan root.

(2)
Kemudian, untuk menghilangkan otoritas normal user tadi (misalnya: novi), perlu kita hilangkan dari grup adm dan sudo. Begini caranya:
Kita login sebagai root terlebih dahulu, kemudian ketik:
# gpasswd -d novi adm
# gpasswd -d novi sudo

(3)
Untuk memastikan bahwa user name novi sudah bukan termasuk grup adm dan sudo, kita ketikkan:
# id -Gn novi
Maka disana tidak akan terlihat lagi adm dan sudo.

Dengan demikian, user name novi sudah menjadi normal user. Adapun otoritas administrasi hanya diberikan ke root saja. Demikian, semoga bermanfaat.

Saturday, November 07, 2015

Fedora 23 XFCE

Distribusi (distro) Fedora adalah project `mainan' Red Hat dalam
mengadopsi teknologi terbaru dari dunia open source. Ia memiliki
siklus rilis yang cepat, yaitu setiap 6 bulan. Adapun untuk supportnya
hanya selama 13 bulan. Oleh karena itu, bagi Anda yang ingin selalu
mengikuti perkembangan software terkini, disarankan untuk menggunakan
distro ini.

Ada hal yang menurut saya menjadi kekuatan Fedora, yaitu adalah bahwa
tampilannya dibuat menjadi sederhana, terutama dalam hal management
paket via command line. Jadi proses upgradingnya memberi impresi
tampilan yang sederhana dan elegan.

Adapun untuk urusan multimedia, termasuk di dalamnya masalah
suara. Akan terselesaikan saat kita melakukan instalasi VLC Media
Player, dari repository rpmfusion. Sebelumnya ikuti cara menambahkan
repo rpmfusion dari situsnya yaitu rpmfusion.org. Kemudian cukup
lakukan installasi berikut: # dnf install vlc. Maka dnf akan
menginstal sebanyak 54 paket, termasuk di dalamnya audio
codecs-nya. Oleh karena itu, Fedora yang tadinya tidak bisa bersuara,
setelah proses itu, akan menjadi bersuara.

Ada hal menarik lain yang ada pada versi Fedora 23 kali ini, yaitu
bahwa ia menggunakan open jdk versi 8. Cara instalasinya bisa diikuti
dari website openjdk. Adapun untuk urusan flash player, dan acrobat
reader saya lebih suka menggunakan paket rpm dari situs adobe.com;
yaitu dengan cara menginstal dari paket rpm-nya, cukup ketik # dnf
install flash-player.rpm.

Adapun untuk urusan office suite, pada Fedora 23 sudah menyematkan
Libre Office versi 5. Cukup lakukan instalasi # dnf install
libreoffice. Sedangkan office suite bawaan untuk spin XFCE disediakan
abiword dan gnumeric, akan tetapi saya lebih prefer untuk menggunakan
libre office.

Sedangkan paket-paket yang saya hilangkan pada spin XFCE ini antara
lain: leafpad, parole, ristretto, padghan, geany, claws-mail, dan
midori. Dan sebagai penggantinya saya menginstal viewnior sebagai
image viewer menggantikan ristretto. Dan emacs menggantikan leafpad
dan geany. Adapun Firefox saya pilih untuk menggantikan
midori. Sedangkan VLC media player adalah sebagai pengganti padhgan
dan parole.

Catatan:

Ada catatan kecil yang sampai tulisan ini dibuat, membuat pusing
banyak pengguna Fedora. Yaitu bagaimana cara mengeset console font di
Fedora 23?  Dari beber apa forum dan situs yang membahasnya,
kelihatannya belum diperoleh cara yang benar bagaimana mengeset
console font di virtual terminal tersebut.

Adapun untuk mengakali hal tersebut, saya menambahkan satu command
line setfont ke dalam file .bash_profile untuk root. Jadi bila kita
ingin mengeset console font untuk normal user, kita bisa lakukan
dengan cara login sebagai root terlebih dahulu, baru kemudian kita
keluar. Yaitu dengan cara mengetikkan $ su - dan kemudian # exit.

Karena memang command setfont itulah yang bisa mengubah console font
di virtual terminal.

Konklusi:

Fedora 23 merupakan distro yang paling saya rekomendasikan bagi
pemula. Karena tampilan managemen paketnya yang simple dan elegan
membuatnya menjadi distro yang user friendly bagi pemula. Dan dnf akan
menyelesaikan semua paket dependensi yang diperlukan, khususnya
masalah suara.

Friday, October 23, 2015

Live Secure on the Online World

Menarik untuk disimak psikologi para peretas yang suka `ngerjain' yang
dominan. Lihat saja bagaimana Windows menjadi OS yang paling banyak
dikerjain.

Mungkin karena faktor `dominan' itulah yang menyulut serangan para
peretas itu. Oleh karena itu, dalam kehidupan online kita saat ini,
tentu hal-hal berikut perlu kiranya kita perhatikan dengan seksama.

Hal pertama adalah OS yang `paling aman', pengertian `paling aman'
disini adalah relatif mendapat serangan peretas paling rendah. Kita
bisa melihat bahwa Windows menjadi sasaran utama para peretas. Adapun
Mac OS X, jarang mendapat serangan. Apalagi Linux, yang saat ini
populasinya masih dibawah 2%. Tentu hal itu menjadikan Linux sebagai
sasaran yang kurang menarik untuk dijadikan sasaran tembak.

Hal yang kedua adalah browser. Mengapa? Karena sehari-hari kita
berkelana di dunia online dengannya. Maka dalam hal ini,
direkomendasikan untuk menggunakan open source browser seperti Firefox
atau Chrome. Karena keduanya sudah teruji merupakan browser yang
paling aman diantara browser lain, paling tidak untuk saat ini.

Hal terakhir adalah pemilihan search engine. Pilihlah search engine
yang tidak akan melakukan tracking semua kegiatan online kita, seperti
duckduckgo. Karena search engine ini jelas-jelas tidak akan melakukan
tracking seperti search engine yang lain.

Demikian beberapa hal yang sekiranya patut untuk diperhatikan agar
kita bisa live secure on the online world.