Sunday, April 12, 2015

Document Exchange

Ada hal yang perlu dicermati apabila kita biasa saling bertukar dokumen dengan kolega. Sementara teman kita masih menggunakan Windows, sedangkan kita sudah menggunakan Linux. Maka aplikasi yang paling ramah untuk keduanya adalah Libre Office. Adapun format file yang bisa kita gunakan adalah Open Document Format. Akan tetapi format ODF ini belumlah tersosialisasi dengan baik kepada teman-teman saya. Oleh karena itu, maka sayalah yang mengalah dengan mengikuti format mereka, yaitu format Open Office XML. Yaitu format dengan extention file .docx, .xlsx dan .pptx.

Untunglah pada versi yang terbaru, Libre Office selalu melakukan pembaharuan dalam hal konversi ODF ke Open Office XML dan sebaliknya. Pernah pada versi tertentu, mungkin versi Libre Office 3.6, saya mengirimkan file spreadsheet.ods dengan formula di dalamnya. Akan tetapi begitu dibuka oleh kolega saya dengan Windows dan aplikasi MS Office, formulanya menjadi hilang. Yang tampil disana hanya datanya saja.

Akan tetapi bila saya kirimkan dalam format .xlsx buatan Libre Office 3.6 tadi, maka tidak dapat dibuka dengan baik oleh MS Office. Oleh karena itu, jalan tengahnya adalah disimpan dalam format .xls.

Seiring dengan pengembangan Libre Office yang selalu diperbaiki, maka untuk versi 4.4 sudah tidak saya temukan lagi persoalan tersebut. Akan tetapi memang sayalah yang harus mengalah untuk mengikuti format Open Office XML. Bukan ODF. Padahal format dokumen office yang comply dengan ISO adalah ODF.

Terima kasih kepada pengembang Libre Office yang sudah memungkinkan dokumen exchange tanpa ada permasalahan lagi pada versi 4.4. Karena hal itulah maka dokumen exchange antara saya sebagai pengguna Linux dengan teman-teman saya yang kebanyakan masih menggunakan Windows bisa dilakukan tanpa permasalahan berarti lagi.


Good deed!

Wednesday, April 01, 2015

Text Wrapping

Setelah lama dicari akhirnya ketemu juga, fitur text wrapping di Emacs
itu disebut filling mode. Cara mengaktifkannya adalah dengan cara M-x
auto-fill-mode. Secara default, nilainya adalah 70 kolom. Bila kita
ingin menggantinya, kita bisa menggunakan perintah C-x f 50; maka
nilainya akan diubah ke 50 (bukan 70).

Sekarang bagaimana caranya bila kita menggunakan vi atau vim? yaitu
dengan perintah :set tw=70. Oleh karena itu kita bisa mengubah nilai
70 tersebut dengan angka yang kita inginkan. Cukup mudah ya.

-- adieu --

Kostumisasi Prompt

Ada hal yang menarik dari default prompt di openSUSE, yaitu bahwa bila
kita login sebagai root, maka prompt-nya akan berwarna merah. Beda
dengan bila kita login sebagai normal user.

Rupanya begini cara melakukan setting prompt-nya agar berwarna merah
seperti di open SUSE.

Buat file .bash_profile di home directory (/root) dengan isi berikut:

     PS1="\[\033[1;31m\]\h #\[\033[0m\] "
     export PS1

Setelah itu lakukan pengecekkan dengan cara login lagi. Maka setiap
Anda login sebagai root, prompt berikut akan berwarna merah. Bila
hostname anda adalah linux, maka akan menjadi seperti berikut:

     linux # 

Hal ini penting untuk mengingatkan bahwa kita sedang login sebagai
root. Dan akan terlihat profesional tentu saja.

Monday, March 16, 2015

Migrasi ke Linux

Apakah Anda berencana untuk melakukan migrasi dari Windows atau Mac OS X ke Linux? Bila memang benar demikian adanya, maka tulisan berikut mudah-mudahan bisa menginspirasi.

Dua platfom (OS) tadi, yaitu Windows dan Mac OS X sudah menyuguhkan tampilan GUI yang begitu mempesona. Maklum, sekarang sudah masuk ke abad 21. Jadi semua tampilan yang digunakan adalah tampilan grafis, atau biasa disebut GUI alias Graphics User Interface. Mulai dari instalasi dan semua proses administrasinya.

Agar Anda tidak shock sewaktu migrasi, maka satu hal yang menjadi pertimbangan adalah tampilan GUI yang mampu menyaingi kedua platform tersebut. Dalam hal GUI, maka distro yang paling jago dalam hal ini adalah Open SUSE. Tampilan GUI pada desktop environment Gnome sungguh clear sebening kristal.

Berikut adalah pengalaman saya dalam menggunakan Open SUSE...

Bila Anda mendownload file installer lengkapnya, maka Anda akan mendownload sekitar 4.1 GB. Sangat besar bukan? Ada cara lain, yaitu download-lah file iso yang live CD, dalam hal ini saya memilih desktop environment Gnome. Maka saya cukup mendownload file iso Live CD Gnome sebesar 850 MB.

Bila sudah siap, maka coba terlebih dahulu live CD-nya, bila everything is ok. Maka booting-lah dan langsung diinstal. Semua tampilan pada waktu instalasi dilakukan dalam mode grafis. Anda tinggal klik-klik menu pilihannya. Tidak akan dipusingkan dengan masalah command di console seperti pengguna Linux yang serius seperti Slackware.

Kelebihan menginstall menggunakan live CD adalah bahwa instalernya hanya akan mengcopy file image live CD-nya ke hard disk. Jadi prosesnya bisa lebih cepat. Nah begitu selesai dan sistem siap di booting. Maka silakan lakukan proses bootingnya.

Ada sedikit catatan saya pada waktu instalasi, yaitu bahwa GRUB tidak diinstal di MBR akan tetapi di slash (/) atau di partisi mount slash dari hard disk kita. Dalam hal ini, kita diberi opsi, apakah akan auto login atau tidak. Kemudian apakah user tersebut akan diberi akses sebagai administrator juga? Akan tetapi saya merekomendasikan untuk membuatnya sebagai normal user sedangkan hak akses admin tetap diserahkan kepada root.

Post Installation


Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengupdate sistem. Hal ini bisa dilakukan dengan cara, login sebagai root dari virtual console (tekan Ctrl-Alt-F1 sampai F6). Yaitu dengan command berikut:

# zypper up

up adalah singkatan update. Command ini akan mengupdate software secara keseluruhan pada sistem. Kalau setelah fresh install, maka dia akan mendownload file sebesar 750 MB. Cukup besar juga. Akan tetapi coba bandingkan dengan bila kita mendownload file installer full yang sebesar 4.1 GB. Secara keseluruhan kita hanya mendownload sebesar 850 MB + 750 MB atau sekitar 1.6 GB. Lebih kecil daripada 4.1 GB bukan?

Command itu akan memberikan kita pertanyaan apakah kita akan lanjut dengan mendownload sebesar 750 MB tsb atau tidak? Ketik: yes. Maka sistem akan mendownload semua file yang dibutuhkan dan akan melakukan update softwarenya.

Bila sudah selesai, maka kita perlu mereboot sistem, hal ini dikarenakan ada upgrade kernelnya juga.

Explorasi Open SUSE


Hal pertama yang perlu dipelajari adalah menjelajah desktop Gnome. Pilihlah icon help (tekan tombol "super" + A). Tombol "super" adalah tombol dengan logo Windows. Atau bisa juga tekan tombol "super" lalu ketik help. Pelajarilah konsep window dari Gnome. Bila Anda terbiasa dengan Windows, maka aplikasi pengganti notepad adalah gedit. Yaitu gnome text editor. Ini cukup sederhana dan jauh lebih keren daripada notepad. Karena banyak fitur yang bisa disematkan pada aplikasi ini.

Untuk membaca file-file pdf, maka secara default sudah disediakan Evince. Tampilannya cukup bagus, bisa menandingi Acrobat Reader. Akan tetapi ada hal yang kurang menurut saya, yaitu fitur searchnya tidak bisa seperti Acrobat reader. Perlu diketahui bahwa Acrobat reader untuk Linux, saat ini hanya didukung pada arsitektur 32 bit dan itupun berhenti pada versi 9.5.5. Jadi pastikan bahwa open SUSE yang Anda download adalah yang versi 32 bit (biasanya ditandai dengan kode i686, sedangkan kode x86_64 itu menunjukkan versi 64 bit).

Acrobar reader bisa diinstal dengan cara # zypper install AdobeRdr.rpm. Command ini tidak hanya menginstal satu paket rpm ini. Akan tetapi juga akan menginstal paket lain yang diperlukan agar Acrobat Reader bisa berjalan dengan baik. Inilah yang disebut dengan dependency. Jadi masalah dependency-nya sudah di kelola oleh zypper secara otomatis. Demikian juga bila kita ingin menginstal paket rpm yang lain.

Untuk aplikasi office, sudah cukup bagus yaitu tersedianya aplikasi Libre Office secara default. Berbeda dengan Slackware yang harus diinstal diluar paket standartnya. Untuk open SUSE 13.2 versi Libre Office yang dipakai adalah versi 4.3.2, setelah zypper up, maka versinya akan diperbaharui menjadi versi 4.3.5. Perlu diketahui bahwa aplikasi Libre Office ini sudah bisa mengakomodasi format MS Office seperti docx, xlsx, pptx. Jadi sudah bisa tukar file dengan kolega yang masih menggunakan format MS Office seperti itu. Dan itu berjalan dengan baik. 

Untuk keperluan browsing, dipercayakan kepada Firefox. Bila Anda ingin yang lebih lengkap, Anda bisa menginstal Chrome. Yaitu dengan cara # zypper install chrome.rpm. Adapun paket Chrome.rpm bisa didownoad dari google.com/chrome. Mengapa perlu ditambahkan Chrome? Karena Chrome adalah browser yang sudah lengkap. Lebih cepat dan lebih responsif daripada Firefox. Bila Anda ingin melihat video dari website microsoft atau apple bisa berjalan dengan baik di Chrome. Kalau di Firefox tidak bisa berjalan videonya.

Untuk keperluan multimedia, saya tidak puas dengan rhythmbox dan totem. Oleh karena itu, saya menggantinya dengan VLC Media player yang bisa mengganti keduanya. Untuk memperingan sistem, dua aplikasi tersebut saya remove dan untuk kemudian saya ganti dengan VLC Media player. Karena memang VLC media player itu bisa memainkan CD musik dan video. Ada equalizernya juga. Jadi lebih baik daripada Windows media player yang belum ada equalizernya. 

Untuk keperluan file archiver, sudah lengkap dengan adanya 7-zip secara default dan unrar. Termasuk adanya archive manager yang bisa melakukan hal itu dalam mode grafis. Bila Anda ingin mengkompres file dalam format 7z, tinggal ketik $ 7z a file.7z file-file-yg-akan-di-archive. Maka hasilnya adalah file.7z. File archiver ini biasanya digunakan bila Anda saling bertukar data dengan kolega Anda.

Jadi cukup sudah semua tools yang diperlukan oleh end user dalam berkomputasi. 

Konklusi


Open SUSE menawarkan pengalaman berkomputasi yang lengkap, mulai dari proses instalasi management software aplikasi dan tampilan GUI yang sebening kristal. Dengan tools-tools yang sudah lengkap. Sangat cocok bagi Anda yang baru pertama kali mengenal Linux. Karena semuanya bisa dikerjakan dalam modus grafis. Anda tidak akan dipusingkan dengan masalah dependency pada saat instalasi sebuah software aplikasi. Karena hal itu sudah dikelola oleh zypper. Jadi distro ini cocok bagi Anda sebagai pengguna Linux pemula.

Thursday, February 26, 2015

Chrome, Browser Yang Lengkap

Pada umumnya, pengguna Linux menggunakan browser Firefox sebagai
browser defaultnya. Sewaktu menggunakan Firefox, biasanya akan
mengalami kendala sewaktu ingin melihat video di website microsoft dan
apple. Bila di microsoft, kita diminta untuk menginstal Silvelight,
sedang di apple, diminta untuk menginstal Quick Time.

Akan tetapi permasalahan tersebut tidak akan kita temui, bila kita
mengganti browsernya dari Firefor ke Chrome. Kita tidak perlu
menginstal Silverlight dan Quick Time. Karena video dari dua website
tersebut bisa dijalankan dengan baik di Chrome.

Lebih jauh lagi, secara default, bila kita ingin menjalankan video di youtube, maka semuanya berjalan dengan lancar. Kondisi berbeda bila kita menggunakan Firefox, maka kita perlu menginstall flash player plugin terlebih dahulu.

Ini dikarenakan secara default, flash playernya sudah menjadi satu dengan browser Chrome itu sendiri. Jadi tidak perlu menginstall flash player lagi.

Oleh karenanya, maka saya menyebut Chrome sebagai browser yang
lengkap. 

Thursday, February 19, 2015

Lampiran File.rar diblok oleh Gmail?

Akhir-akhir ini ada kebijakan baru dari Gmail, bahwa bila kita
melampirkan file dan dipassword dalam format rar, maka akan
diblokir. Padahal sebelumnya tidak ada masalah.

Untuk itu, maka saya menyarankan teman saya untuk mengkompres
dan mempasswordnya dengan 7zip. Dengan syarat dikompres dalam format
7z.

Adapun file archiver 7zip itu bisa di download dari website mereka
yaitu 7-zip.org.

Sampai tulisan ini saya buat, kita masih bisa melampirkan file.7z
dengan di password untuk kemudian dikirimkan via gmail.

Mungkin ada cara lain, bila kedepan hal itu diblok juga. Yaitu
menggunakan cloud. Dan kita tinggal share link-nya ke kolega
kita. Untuk kiranya mendownloadnya dari sana.

The Best Distro

Distro atau distribusi adalah OS lengkap dari kernel Linux. Sebenarnya
Linux adalah nama sebuah kernel. Dimana kernel ada inti dari sebuah
OS. Akan tetapi orang pada umumnya mengasosiasikan bahwa Linux adalah
nama sebuah OS. Tidak salah memang.

Kernel ditambah aplikasi tambahan sedemikian sehingga menjadi sebuah
OS yang lengkap, dalam dunia Linux disebut dengan distro. Dan beragam
mahzab distro di Linux. Ada yang bermahzab debian, red hat, dan yang
lainnya.

Mengingat sebuah distro biasanya diturunkan dari distro yang
lain. Sebagai contoh distro Ubuntu yang merupakan turunan dari
Debian. Demikian juga dengan Fedora, yang merupakan turunan dari Red
Hat. 

Akan tetapi ada satu distro yang paling tua dan sampai sekarang masih
hidup. Yaitu distro Slackware. Distro ini secara resmi dirilis sekitar
tahun 1993. Atau 2 tahun setelah Linux kernel diperkenalkan ke public.

Bila kebanyakan distro saat ini sudah mengandalkan tampilan GUI
(graphic user interface) saat instalasinya. Maka Slackware masih tetap
berpegang teguh pada tampilan pada modus text. Selain itu, semua
proses administrasinya dilakukan dalam modus text dan dilakukan oleh
root saja.

Dengan proses administrasi pada modus text, maka apabila ada kesalahan
akan bisa dilihat apa yang salah. Dan dengan demikian bisa dilacak,
apanya yang salah. Tidak seperti yang mengandalkan tampilan GUI, yang
kadang tidak memberikan error message kepada kita, bila ada problem.

Apa lagi yang membedakan distro ini dengan distro yang lain?

Slackware tidak mengenal otomatisasi dependensi paket. Sebagai contoh,
pada open SUSE, kita ingin menginstal banshee, maka bila pada sistem
tersebut belum ada mono. Maka selain banshee, paket mono juga akan
diinstal. Karena banshee membutuhkan mono untuk bisa berjalan dengan
baik. Dan cukup dengan satu command saja, mono juga ikut terinstal.

# zypper install banshee

Maka sistem akan dicek, membutuhkan dependensi apa saja. Bila belum
ada, maka otomatis paket-paket yang bersangkutan akan ikut
diinstal. Jadi bila kita akan menghapus paket banshee, maka paket mono
secara otomatis tidak akan dihapus. Dan kondisi inilah yang membuat
sistem menjadi gemuk. Dan tidak simple.

Hal itulah yang dihindari Slackware. Jadi install-lah paket yang
benar-benar kita perlukan saja. Agar sistem kita bisa berjalan secara
optimal. Jadi ada optimasi baik dari sisi hardware maupun softwarenya,
sehingga performa sistem secara keseluruhan dapat dijaga dengan baik.

Selain itu, dalam hal release cycle tidak bisa dipastikan. Karena next
release hanya akan direlease manakala siap. Tidak seperti Ubuntu atau
Fedora yang setiap 6 bulan ada release baru. Atau open SUSE yang
setiap 8 bulan bisa dipastikan akan ada release baru. Akan tetapi
secara rata-rata, Slackware direlease sekitar 1 tahun sekali.

Selain itu, Slackware itu simple. Jadi tidak ada dikotomi versi
desktop dan server. Dan juga tidak ada model spin off seperti
Fedora. Yang membedakan hanyalah arsitekturnya, ada yang 31 bit, 32
bit, 64 bit atau arm. 

Dengan kesederhanaan itulah, maka ia menjadi distro yang banyak
memiliki pengguna yang militan. Alias menjadi Linux geek gara-gara
Slackware.

Bila kita menggunakan Slackware, maka kita akan mengerti tentang
Linux. Dan itu bisa dibuktikan dengan cara mencobanya. Bukan hanya
membayangkan. Karena bagaimanapun juga, pengalaman adalah guru yang
terbaik.

The best Linux distro is Slackware.

Wednesday, January 28, 2015

Icons

Ada hal yang menurut saya aneh dari pendapat teman saya, dia
mengatakan bahwa icon itu tidak penting.

Di sisi lain, saya adalah orang yang tidak pernah puas atau lebih
tepatnya gampang bosan dengan penampilan icon yang itu-itu saja. Oleh
karenanya, setelah lebih dari 1 tahun mengidolakan icon Faenza, maka
sekarang saya menggantinya dengan icon Matrilineare. Icon ini
cenderung flat. Dan uniknya warna foldernya adalah krem kuning gading
dengan strip coklat.

Icon menurut saya itu berkaitan dengan visual dan memberikan impresi
saat kita menggunakan komputer. Dan bila Anda adalah orang yang biasa
betah di depan komputer. Pemandangan wallpaper yang itu-itu saja
tentu akan membuat Anda bosan. Tak terkecuali dengan icon. Bukankah
demikian?

Nah oleh karena itu, maka saya biasanya membuat cadangan beberapa
alternatif icon dalam sistem komputer saya. ada Faenza, Treepatra
(yang black and white), berikut Matrilineare. Semoga tulisan pendek
ini akan selalu mengingatkan, saya khususnya tentang impresi icons yang
menurut saya indah. Jadi icon itu penting apa tidak?

Up to you...

Monday, November 10, 2014

Text Editor

Membicarakan text editor dalam dunia Linux, seolah tidak pernah
selesai. Mengapa demikian ? Analoginya seperti Anda belajar Kimia,
maka laboratoriumnya adalah kehidupan itu sendiri. Karena "Life is a
Chemistry". Maka di Linux, dikenal "Everything is File".

Istilah "file"  identik dengan text file. Dan kalau kita akan
memanipulasi device atau piranti apapun yang terkoneksi dalam sebuah
sistem Linux, maka yang kita manipulasi itu adalah file yang menjadi
node dari device atau piranti tersebut.

Maka tidaklah mengherankan bila keberadaan text editor di Linux
penting. Bahkan ada istilah holy war in between vi vs emacs text
editor. Ada yang mengatakan bahwa vi itu mainstream, dll. 

Tetapi saya tidak akan masuk dalam polemik tersebut. Karena itu semua
bisa terjadi mengingat open source memungkinkan Anda untuk memilih
text editor mana yang menjadi favorit Anda.

Simple Text Editor


Bila pemahaman simple itu dari sisi end user, maka text editor yang
simple menurut saya adalah pico atau nano. Karena begitu Anda
menjalankan program nano, Anda bisa langsung mengetikkan text. Dan
menu-nya nongol disana. Anda tidak perlu mengingat-ingat command apa
yang harus diketik, bila ingin menyimpan file, dll.

Advance Text Editor


Bila Anda sudah mahir dengan nano, maka ada yang lebih keren darinya
yaitu vi atau vim. Karena dari sisi tampilannya lebih simple. Karena
yang muncul cuma blank screen dengan kursor saja. Dan semua menunya
tersembunyi. Seolah ingin memberi ruang yang luas kepada ruang editor
kita. Kalau kita menilik sejarahnya, ini adalah text editor asli
bawaan Unix. Yang kemudian di-"wariskan" ke Linux.

Bila Anda suka dengan hal-hal yang simple dari sisi tampilan, akan
tetapi agak sedikit misterius menunya, maka text editor vi atau vim
adalah text editor yang cocok.

Unique Text Editor


Selanjutnya ada text editor yang menurut penilaian saya adalah yang
paling unik dan paling misterius, yaitu Emacs. Ia memang misterius,
karena hampir command menunya diawali dengan kombinasi tombol Ctrl
atau Alt dan key yang lain.

Tetapi jangan cepat menyerah dulu, bahwa dibalik itu semua, ia
menawarkan fitur yang sangat lengkap dan mandiri. Karena ia sendiri
bisa menjadi tutor untuk dirinya sendiri. Bisa juga digunakan sebagai
calendar. Bahkan calculator sekalipun.

Oleh karena fitur yang lengkap dan penuh impresi misterius dan genius
itulah maka saya memberinya label unique text editor.

Konklusi


It seems like there is no conclusion here. But this writing is only to
open up your mind that there are many options, you can choose to be
your favorite text editor in Linux world. Which one is yours? Nano,
Vim or Emacs?