Thursday, May 12, 2016

Mengganti Wallpaper di Blackbox Window Manager

Secara default, blackbox window manager menawarkan styles: Blue, Gray, Green, Purple dan Red. Apabila kita bosan dengan wallpaper warna solid yang ditawarkan, maka berikut adalah cara bagaimana mengganti wallpaper color tersebut dengan gambar yang kita suka sebagai wallpapernya.

Perlu diketahui bahwa lokasi styles tersebut tersimpan pada direktori: /usr/share/blackbox/styles/

Langkah pertama adalah mencopy salah satu styles tersebut, sebagai contoh ketik:
# cp Purple Chelsea
Setelah itu, editlah file Chelsea tersebut:
# emacs Chelsea
Kemudian cari perintah berikut:
rootCoomand: bsetroot -solid rgb:77/aa/77
Gantilah menjadi:
rootCommand: bsetbg /home/purnomo/Pictures/danau.jpg
Lalu simpan perubahan tersebut.

Kemudian kita jalankan blackbox dengan perintah: $ startx. Maka akan muncullah wallpaper danau.jpg tersebut.

Demikian.

Monday, May 09, 2016

Window Manager Openbox

Untuk mengakses aplikasi berbasis GUI di Linux, selama ini saya selalu
mengandalkan dekstop environment. Setelah puas dengan Gnome dan XFCE,
maka sekarang saatnya kita mengeksplorasi Window Manager, bukan
Desktop Environment. Window Manager adalah program yang memanage
Window saat kita menggunakan aplikasi berbasis GUI.

Teman saya yang memberi statement bahwa icons itu tidak ada gunanya,
ia sudah lama menggunakan Window Manager blackbox. Pada awalnya, saya
coba menggunakan blackbox, akan tetapi ada kebingungan. Karena tombol
Alt-Tab tidak berfungsi untuk switch aplikasi. Rupanya, kita perlu
tambahkan bbkeys, agar tombol Alt-Tab bisa digunakan untuk switch
aplikasi yang ada.

Dan lagi, blackbox versi terakhir yaitu versi 0.70.1 dirilis tahun
2005. Alias sudah 11 tahun berselang. Akhirnya saya ketemu dengan
Openbox, yang rupanya dikembangkan dari Blackbox. Dan ini memberi
tawaran yang berbeda dengan Blackbox dengan tampilan panel yang simple
dibawah. Openbox menawarkan tampilan blank wallpaper dan hanya dengan
klik kanan mouse, maka menunya akan tampil.

Jadi bila kita memaksimalkan window yang sedang kita gunakan, ia akan
benar-benar full. Jadi panel itu tidak penting. Dan lebih hebatnya
openbox bisa bekerja sama dengan aplikasi lain seperti KDE, GNome atau
XFCE yang menyediakan panel. Jadi kita bisa menggunakan panel dari
xfce. Dengan cara memanggilnya dari command prompt: $
xfce4-panel. Maka panel xfce akan muncul. Dan semua pengaturannya kita
ikuti aturan main xfce.

Adapun untuk pengelolaan wallpaper, biasanya kita gunakan aplikasi
feh. Jadi kita perlu install itu untuk mengelola wallpaper yang kita
suka. Kemudian untuk mempercantik tampilan desktop, kita bisa
menggunakan monitoring aplikasi seperti conky, dan tema conky yang
saya suka adalah gotham, yang menampilkan tanggal, jam dan sistem
informasi cpu usage di wallpaper.

Bila kita lebih mementingkan performa sistem agar lebih cepat, maka
conky bisa kita hapuskan.

Ada hal yang perlu kita lakukan lagi, adalah untuk memanage semua
aplikasi yang ada, kita bisa lakukan secara otomatis dengan tools
menumaker atau mmaker. Yaitu dengan cara $ mmaker -f OpenBox3, maka ia
akan mengatur semua aplikasi yang ada pada komputer kita kedalam menu
yang baru. Dan outputnya berupa file .config/openbox/menu.xml.

Maka sistem kita akan bisa menjalankan GUI, cukup dengan window
manager + wallpaper manager feh dan menumaker mmaker. Dan kita akan
mendapatkan performa sistem yang lebih baik. Jauh lebih responsif
ketimbang bila kita menggunakan desktop environment seperti Gnome, KDE
atau XFCE sekalipun.

Silakan mencoba.

Untuk mengkostumisasi openbox, bisa diikuti dari website ini:
http://www.devdungeon.com/content/customizing-openbox-window-manager-arch-linux

Semoga bermanfaat.

Slackware Yang Simple

"Simple is beautiful" kelihatannya adalah terminologi yang cocok
disematkan kepada Slackware, yang memang memegang teguh tradisi
Unix. Karena kita tidak akan menemukan kerumitan seperti halnya pada
openSUSE, sebagai contoh, bila kita ingin membaca manual dari sebuah
command, misalnya $ man passwd

Maka pada openSUSE kita akan ditanyakan, mau melihat man(1) atau
man(1p) ? Karena yang man(1p) itu erat kaitannya dengan
pemrograman. Sementara man(1) itu adalah berkaitan dengan normal
user.

Hal itu tidak akan kita temukan pada Slackware. Jadi begitu kita
mengetikkan $ man passwd, maka langsung muncul manual passwd
tersebut.

Yang lain, adalah sewaktu kita melakukan scroll layar dengan tombol Pg
Down, maka di Slackware akan tergulir full 1 layar. Beda dengan
openSUSE yang hanya akan bergulir setengah layar.

Bila kita ingin membuat sleep komputer kita, pada openSUSE kita perlu
ketik # systemctl suspend, sementara di Slackware cukup ketik #
pm-suspend.

Karena memang semua init system di openSUSE menggunakan systemd, itu
membuat semuanya menjadi rumit dan kompleks. Tidak menjadikannya
sebagai sebuah tool yang sederhana dan mengerjakannya secara tuntas.

Oleh karena itu, sekarang ada gerakan no-systemd. Dimana pengguna
Debian lalu membuat forking dengan membuat cabang distro Debian tanpa
systemd, yaitu Devuan.

Untung Slackware sampai versi 14.1 dan versi 14.2 RC 2 tetap teguh
untuk tidak mengadopsi systemd. Semoga kedepan tetap berpegang pada
tradisi Unix yang portable, simple dan to the point.

Thursday, April 07, 2016

Visual Studio Code Untuk Belajar Python, C, C++ dan C#

Setelah mencari IDE (Integrated Development Environment) apa yang terbaik untuk mendevelop Python, Akhirnya saya mendapatkan pencerahan setelah menemukan Visual Studio Code. Rupanya ada perbedaan antara IDE dengan Editor. Bila Editor adalah semacam text editor saja, seperti notepad++, Emacs, vim, maka IDE adalah editor + compiler.

Oleh karena itu, maka IDE biasanya lebih berat dalam hal performance. Karena memang membundle editor + compilernya. Secara default, Visual Studio Code didesain bagi pengembang aplikasi web, yang meliputi html, css, java script, type script. Jadi untuk mendevelop bahasa pemrograman seperti Python, perlu sedikit cara agar bisa digunakan juga sebagai compiler.



Setting Python


Tekan F1, lalu ketik Task: Configure Taks Runner. Kemudian gantilah "command" : "python.sh", "isShellCommand" : true, "showOutput" : "always", "args" : ["{$file}"]
Itu artinya bila kita menjalankan task runner (run build Task), maka compiler yang digunakan adalah shell script python.sh. Jadi program python yang sudah dibuat, bisa dibuild dan run dengan cara menggunakan shortcut Run Build Task ini yaitu (Ctrl-Shift-B).

Adapun source code shell script /usr/bin/python.sh adalah sbb:

#!/bin/bash
xfce4-terminal --hold --geometry 80x20 --hide-menubar --command="python3 $1"

Bila Anda menggunakan python 2, maka ganti "python3 $1" menjadi "python $1".



Setting C, C++ dan C#


Untuk mendevelop bahasa C, C++ atau C#, kita perlu mengganti "command" : "python.sh" dengan satu shell script khusus. Misalnya kita menggunakan compiler clang, maka shell script yang diperlukan adalah:

script c.sh :

#!/bin/bash
clang $1
xfce4-terminal --hold --geometry 80x20 --hide-menubar --command="./a.out"

Lalu simpan file c.sh ini ke folder: /usr/bin. Kemudian gantilah "command" : "python" menjadi "command" : "c.sh". Maka Run Build Task akan mengkompilasi source code C dan menjalankannya.

Adapun, berikut adalah shell script untuk C++ dan C#.

Script untuk C++: simpan dalam file /usr/bin/cpp.sh

#!/bin/bash
clang++ $1
xfce4-terminal --hold --geometry 80x20 --hide-menubar --command="./a.out"

Scipt untuk C#: simpan dalam file /usr/bin/cs.sh

#!/bin/bash
mcs $1 -out:hasil
xfce4-terminal --hold --geometry 90x20 --hide-menubar --command="mono hasil"

Dengan catatan bahwa shell yang digunakan dalam hal ini adalah xfce4-terminal.



Komentar


Visual Studio Code ini memiliki performance yang lebih ringan dan responsif daripada Eclipse atau Atom.

Demikian, semoga bermanfaat.

Thursday, February 04, 2016

Mengeksplorasi Desktop Environment Dengan Open SUSE

Bila Anda termasuk orang yang suka mengeksplorasi desktop environment, maka distro yang enak untuk itu adalah Open SUSE. Karena dengan beberapa jenis desktop environment bisa kita install pada distro ini tanpa mengalami gangguan.
Secara oficial, open SUSE menawarkan desktop environment KDE, Gnome, XFCE, Mate. Akan tetapi kita juga bisa menambahkan desktop environment lain seperti yang ditawarkan distro Solus dengan desktop environment budgie-desktop.
Bila ingin mengeksplorasi desktop environment budgie-desktop, bisa dilakukan dengan cara menginstallnya dari software open suse, tinggal masukkan kata kunci budgie-desktop, maka kita bisa install dengan metode 1-click install.
Begitu juga bila kita ingin mencicipi desktop environtment Cinnamon. Hal itu bisa kita coba dari software.opensuse.org.
Ini adalah kelebihan lain dari Open SUSE yang bisa memberi kesempatan kita untuk mengeksplorasi desktop environment yang lain. Tanpa perlu mendownload file iso dari distro lain.
Selamat bereksplorasi !

Saturday, December 19, 2015

Cara Membuat File Runnable jar Dari Command Line

Jar atau java archieve adalah cara melakukan arsip di pemrograman
Java. Dan ini adalah cara yang simple bila kita ingin berbagi
aplikasi, karena ada kalanya sebuah aplikasi membutuhkan beberapa class.

Bila kita menggunakan Eclipse, maka hal tersebut dapat dikerjakan
dengan mudah. Disini, akan saya jelaskan bagaimana cara membuat file
runnable .jar dari command line.

(1)
Bila itu hanya melibatkan satu class, maka cukup ketik.

Misal nama file class-nya adalah Demo.class. Maka cara membuat file
Demo.jar adalah sbb:

jar -cfe Demo.jar Demo Demo.class

* Demo.jar merupakan target output file name jar-nya. Kita bisa
  menggunakan nama lain selain Demo dalam kasus ini.
* Demo adalah tempat method main() berada.
* Demo.class adalah class yang diperlukan oleh method main().

(2)
Bila sudah melibatkan beberapa class. Sebagai contoh method main()-nya
ada di BoxDemo, yang melibatkan dua buah class yaitu BoxDemo.class dan
Box.class. Maka kita bisa membuat runnable jar-nya sebagai
berikut. Misal kita menginginkan nama outputnya adalah
Result.jar. Cukup ketik:

jar -cfe Result.jar BoxDemo BoxDemo.class Box.class

(3)
Bila sudah melibatkan packages, misal pada kasus ini adalah sbb:
Semua packages yang diperlukan ada di folder p1. Maka kita harus
berada satu level diatas p1. Atau bila kita ketikkan perintah ls (dir
di Windows), maka folder p1 akan muncul.

Sebagai contoh:

Lokasi method main()-nya ada di p1.AccountBalance, dan memerlukan 3
buah class yaitu AccounBalance.class, Account.class dan
Balance.class. Maka cukup kita ketik-kan perintah:

jar -cfe Hasil.jar p1.AccountBalance p1/AccountBalance.class
p1/Account.class p1/Balance.class

* ganti-lah tanda slash ('/') dengan back slash ('\') bila Anda
  menggunakan Windows.

Adapun cara menjalankan aplikasi jar adalah dengan cara:
java -jar Demo.jar

Demikian. Semoga bermanfaat.

Sunday, December 06, 2015

Gnome

Ini adalah desktop environment yang saya suka sejak versi 2.x atau dikenal dengan Gnome Classic. Dan sekarang dengan munculnya Gnome 3.x atau biasa disebut dengan Gnome Shell sudah mengalami perkembangan yang amat sangat bagus. Dan sekarang saya sudah menemukan konfigurasi Gnome Shell yang keren, yaitu dengan menggunakan Gnome Extension Dash to Dock. Jadi secara default, dash ini hanya akan muncul bila kita tekan tombol super. Akan tetapi dengan extension tadi, maka ia bisa kita letakkan di bottom dan akan auto hide secara inteligence bila ada window yang menimpanya.
 
Selain itu, kita juga menjadi sangat mudah dalam mengelola aplikasinya, karena bisa langsung klik tombol "Show Application" dari dash ini, tanpa harus menekan tombol super terlebih dahulu. Selain sebagai short cut ke aplikasi, dash to dock juga sekaligus berfungsi sebagai window list.

Dan dengan demikian, tampilannya menjadi simple dan mirip sekali dengan Apple Mac OS X. Alangkah baiknya bisa extension ini kedepan diadopsi menjadi terintegrasi dengan baik pada Gnome release selanjutnya. Karena fitur ini membuatnya menjadi efisien.

Cukup tambahan satu buah extension dan semuanya menjadi indah. Seolah saya menemukan keindahan Mac OS X di Linux. Cool !



Thursday, November 19, 2015

Jangan Langsung Migrasi ke Slackware

Pesan ini adalah pesan yang bijak bagi Anda yang selama ini dimanjakan oleh OS
seperti Windows dan bermaksud untuk migrasi ke Linux. Mengapa demikian? Karena
bila Anda langsung ke Slackware, bisa saya jamin, bahwa Anda akan frustasi
dibuatnya. Mengingat selama ini Anda selalu dimanjakan oleh Windows, dalam hal
instal software favorit Anda. Karena yang Anda lakukan hanya download file
installernya, kemudian double klik dan selesai sudah.

Dalam hal ini Anda perlu membuat strategi jembatan sebelum menjadi seorang
Linux geek. Yaitu dengan menggunakan distro yang mirip dengan Windows, dalam
hal managemen paketnya. Disini, yang saya rekomendasikan adalah dengan
menggunakan distro Open SUSE. Distro ini, diinstal dalam mode grafis. Dan
paket-paket tambahannya bisa diinstal dalam mode grafis juga.

Dan sudah ada banyak paket aplikasi yang dibuat khusus untuk distro
ini. Selain itu, kita bisa mencarinya dari website software.opensuse.org. Kita
bisa seach aplikasi non standard dari sana. Dan biasanya sudah berupa 1-click
install. Jadi tinggal klik, kemudian sudah terinstal dan dapat berjalan dengan
baik di Open SUSE.

Disini, saya hanya ingin sedikit berbagi bagaimana melakukan instalasi dan
penghapusan paket yang disediakan oleh tool zypper. Tool ini memang alat yang
disiapkan open SUSE dalam menangani paket instalasi.

Sebagai contoh, kita ingin menginstal browser chrome, maka kita tinggal
download paket-nya dari google.com/chrome, pastikan kita mendownload file
dalam format rpm dan arsitekturnya sesuai dengan distro yang kita
pakai. Misalnya kita menggunakan open SUSE 13.2 dan arsitektur 32 bit. Maka
downloadlah paket rpm yang 32 bit.

Setelah di download tinggal kita ketik perintah:

# zypper install google-chrome.rpm

Nanti zypper akan mengecek sistem, dan akan menampilkan paket dependensi agar
chrome ini bisa terinstal dan berjalan dengan baik. Inilah kelebihan zypper
tool yang fungsinya juga menangani masalah dependensi paket.

Dalam kasus ini, akan diinstal 10 paket baru termasuk google-chrome itu
sendiri. Untuk selanjutnya tinggal kita tekan y, untuk meneruskan proses
instalasinya.

Adapun cara untuk menghapus paket google-chrome beserta paket dependensinya,
yang perlu kita ketikkan adalah sbb:

# zypper remove -u google-chrome

Opsi -u berfungsi untuk menghapus paket dependensi dari google-chrome. Bila
opsi ini tidak kita tuliskan, maka ia hanya akan menghapus paket google-chrome
saja, sementara 9 paket dependensinya tidak ikut terhapus.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa tool zypper bagus dalam hal pengelolaan paket
berikut paket dependensinya. Inilah yang membuatnya menjadi ready to use dan
easy to use bagi pemula.

Oleh karena itu, saya menyarankan agar Anda untuk menggunakan distro Open SUSE
terlebih dahulu. Setelah Anda bergaul dengan open SUSE, dan bermaksud untuk
menjadi seorang Linux Geek, maka saran saya adalah migrasi ke
Slackware. Karena memang distro inilah yang masih memegang teguh tradisi
Unix. Dimana semua managemen paket dan administrasinya dikelola melalui linux
command line. Dan ini jauh berbeda dengan Windows, yang memang didesain untuk
mempermudah penggunanya.

Demikian, semoga bermanfaat.